Jika Bio Energi Dijadikan Energi Utama, Indonesia Harus Siap Dijajah ke-3 Kalinya

Jika Bio Energi Dijadikan Energi Utama, Indonesia Harus Siap Dijajah ke-3 Kalinya

Dahulu kala, saat manusia masih belum mampu memanfaatkan energi fosil seperti minyak bumi, batu bara dan sejenisnya untuk dijadikan sumber energi, negara-negara di duni lebih tertarik untuk memiliki dan membeli komoditas pertanian seperti cengkeh, pala, kayu manis atau yang sering di sebut dengan rempah-rempah.

 

Saat itu, komoditas rempah-rempah harganya begitu malah karena dijadikan sebagai kebutuhan primer. Orang-orang eropa bahkan rela berlayar menyebrangi lautan lepas hanya demi mengunjungi sebuah benua yang kaya akan rempah-rempah yakni Asia.

 

Karena rempah-rempah pula, negara-negara agraris di wilayah Asia dijajah oleh bangsa eropa. Hampir semua negara agraris di wilayah Asia yang kaya akan hasil pertanian dan rempah-rempah merupakan bekas negara jajahan. Sebut saja negara-negara diwilayah Asia tenggara seperti, Indonesia,Malaysia,Filipina dan yang lainnya. Hampir tak ada satupun yang bukan negara jajahan.

 

Namun, era keemasan rempah-rempah sebagai komoditas berharga mulai memudar menjelang abad ke-20. Penemuan-penemuan baru yang diciptakan oleh orang-orang eropa, telah merubah gaya hidup mereka. Mereka yamg semula mengandalkan rempah-rempah untuk obat-obatan,bumbu dapur, dan penghangat badan di musim dingin, kini telah bergeser menggunakan teknologi temuan mereka.

 

Namun sayangnya, temuan mereka ini tak dapat berjalan tanpa adanya sumber energi. Dan melaui percobaan panjang, akhirnya mereka pun mampu menemukan sesuatu yang dapat menghasilkan energi untuk hasil penemuan mereka, yakni minyak bumi yang diperoleh dari ekstraksi energi fosil.

 

Karena kebutuhsn ysng terus meningkat, hasil energi fosil di wilayah mereka pun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Dan akhirnya, merekapun kembali berbondong-bondong mecari sumber energi fosil baru. Dan lagi-lagi, entah berkah apa yang diterima benua Asia. Di sisi lain benua besar ini ternyata menyimpan begitu banyak cadangan energi fosil. Sebut saja negara-negara di kawasan Asia Barat seperti Arab Saudi, Irak dan Iran.

 

Seiring waktu, negara-negara yang memiliki sumber energi fosil seperti minyak, gas, dan batubara mulai dijadikan tempat berkumpulnya kepentingan berbagai negara di dunia. Dan akhirnya, penjajahan jilid II pun terjadi.

 

Namun, seperti halnya rempah-rempah, energi fosil pun akan segera kehilangan popularitasnya. Hal ini dikarenakan energi fosil merupakan energi yang tak dapat di perbarui. Salah satu perusahaan pengeboran minya Britis Proteleum bahkan menyatakan, sisa energi fosil dunia tinggal 45 tahun lagi, sementara sisa energi fosil di Indonesia usianya hanya tinggal 11,8 tahun.

 

Berdasar pada temuan data tersebut, energi dunia diperkirakan bakal habis pada tahun 2056 dan Indonesia pada tahun 2023, dengan asumsi kebutuhan energi dunia tidak mengalami peningkatan. Karena hal yang mengkhawatirkan ini, orang-orang pun segera mencari alternatif baru yakni dengan menciptakan satu energi baru yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, atau lebih dikenal dengan sebutan energi terbarukan atau bio energi.

 

Dampak buruknya, Saat harga minyak mentah dunia melambung tinggi pada kisaran tahun 2007-2008 lalu. Sejumlah orang beralih menggunakan bio energi. Namun hal ini justru memicu masalah baru yakni krisis harga pangan. Harga paangan dunia meningkat tajam hingga 75 persen. Hal ini disebabkan karena pengalihan lahan yang semula digunakan untuk menanam pangan digunkaan untuk menanam tanam yang dapaat digunkan untuk menjadi bio energi.

 

Dampak buruk selanjutnya, jika ramalan British Proteleum mengenai jumlah sisa cadangan minyak bumi benar, maka indonesia harus siap siap kembali di jajah untuk ketiga kalinya. Karena, ketika energi fosil digantikan energi hayati, maka tempat konflik akibat perebutan energi akan berpindah pada bagian dunia yang menjadi sumber pangan sekaligus sumber energi.

 

Wilayah yang menjadi lumbung dari energi hayati tak lain adalah daerah-daerah yang ada di sepanjang ekuator, atau lintang garis khatulistiwa. Negara di wilayah ekuator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai Negara.  *** kny