Jangan Lari dari Indonesia, Jangan Takut Politik nya

Jangan Lari dari Indonesia, Jangan Takut Politik nya

Seminggu lagi kita bisa lihat Jokowi sebenarnya

20 Oktober
tinggal seminggu lagi, Joko Widodo atau Jokowi, mantan gubernur Jakarta bersiap menerima jabatan barunya sebagai presiden Republik dengan ekonomi terbesar di Asia Tengagra.

Sekilas Jokowi, dia adalah politisi
muda dengan reputasi administrasi pemerintahan yang terbilang fresh. Di tangannya Indonesia diharapkan bisa melakukan reformasi ekonomi.

Tapi sentimen pasar sudah mulai bermuka masam pada Indonesia setelah parlemen malah dikuasi oposisi yang bermusuhan yang bahkan dengan mata telanjang pun orang bisa menjamin pihak oposisi tidak akan pernah tidur untuk merusak pemerintahannya.

Pekan lalu, Credit Suisse menurunkan nilai jual Indonesia dan mengatakan, "Prospek untuk pembentukan koalisi parlemen masih belum jelas."

Tapi Jokowi berhak mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya jauh dari anggapan dan kecemasan berlebihan, baik kepada warga negara dan investor di Indonesia. Investor tidak perlu memberi judge berlebihan sebelum "pilotnya terbang"

Presiden asal Solo ini bisa melakukan banyak tanpa dukungan parlemen. Masih banyak area pembangunan utama di mana parlemen bisa tinggal menonton tanpa merecoki, walau dalam arahan memotong subsidi BBM akan menjadi amunisi politik bernilai dinamit.

Yang Jokowi coba ubah pada minggu depan mendatang adalah masalah ekonomi yang saat ini terjebak tumbuh 6% melaju lamban pada 6,5% dan malah direvisi karena hentakan Tapering the Fed menjadi 5%.

Kekuatan fiskal Jokowi terbatas, tapi masih ada ruang perbaikan dengan menggenjot wilayah pajak di mana Koalisi Merah Putih pun sejalan dengan gagasan Jokowi.

Adapun BI selama ini menjadi pelaksana gagasan buffering fiskal di Indonesia, dengan tetap mengetatkan suku bunga berakibat pada lesu nya ekspor, namun juga dengan demikian impor yang melebih batas.

Akan halnya Jokowi "seharusnya tidak mengharapkan apapun nikmat dari bank sentral," tukas Gareth Leather dari perusahaan riset yang berbasis di London Capital Economics.

BI selama ini tetap
mempertahankan suku bunga acuan pada relatif tinggi 7,5% yang artinya berturut turut dilakukan sejak delapan pertemuan direksi dari tahun lalu. ***Fey