Isu Kemandirian Fiskal dalam Sektor Energi pada Kasus Russia-Crimea-Ukraina

Isu Kemandirian Fiskal dalam Sektor Energi pada Kasus Russia-Crimea-Ukraina

Lupakan Glasnost, Mikhail Gorbachev, dan perlombaan senjata. Apa yang benar-benar membuat pecah Uni Soviet ialah jatuhnya harga minyak di akhir 1980-an. Almarhum ekonom Yegor Gaidar, salah satu ekonom di era Boris Yeltsin, menulis pada tahun 2007 bahwa jatuhnya kekaisaran dapat ditelusuri kembali ke 13 September 1985, ketika Arab Saudi, muak dengan menahan pasokan untuk menopang harga, membuka keran penjualan untuk memulihkan pangsa pasar yang hilang.

 

Uni Soviet, memompa hampir 12 juta barel per hari, merupakan produsen terbesar di dunia pada saat itu. Perubahan kebijakan di Riyadh menyebabkan guncangan harga: Minyak turun dari sekitar $ 25 per barel untuk kurang dari $ 10 di bulan-bulan berikutnya, dan tetap rendah untuk sisa dekade selanjutnya.

 

Rusia adalah produsen minyak terbesar dunia (meskipun Arab Saudi yang merupakan eksportir terbesar) tapi ekonomi masih sangat bergantung pada penjualan energi.

 

Ekspor minyak dan gas menyumbang sekitar setengah dari anggaran Rusia dan sekitar 30 persen dari PDB. Data ini ibarat melihat titik lemah dari Russia. Maka Barat ingin menghukum Presiden Vladimir Putin karena perampasan lahan di Crimea, mereka harus menargetkan pendapatan energi petro-ekonominya yang mengapung.

 

Dalam jangka pendek, dunia Barat tidak bisa menghancurkan sektor energi Rusia karena akan merusak diri mereka sendiri, di mana perusahaan-perusahaan Barat seperti ExxonMobil, Shell, Total, Eni, Statoil, BP dan GE semua berinvestasi di Russia. Sebuah pilihan jangka panjang dapat melibatkan upaya untuk menurunkan harga minyak dan gas secara bertahap, baik dengan mengurangi pertumbuhan konsumsi energi atau meningkatkan pasokan. Maka dari itu inilah jalan yang bisa diambil oleh Obama untuk merespon aneksasi Rusia dari Crimea, yakni melakukan perubahan mendasar dalam bisnis energi global.

 

Satu proposal untuk Amerika Serikat untuk menjual beberapa perusahaan Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang menyebabkan penurunan langsung dalam harga minyak mentah. Pada hitungan terakhir, SPR diadakan 696.000.000 barel minyak di depot di sepanjang Teluk Meksiko. Pakar energi Philip Verleger menghitung bahwa Amerika Serikat bisa melepaskan antara 500.000 sampai 750.000 barel per hari dari itu selama dua tahun tanpa melanggar kewajiban internasional untuk menjaga senilai 90 hari impor minyak ekuivalen dalam penyimpanan.

 

Meningkatnya produksi AS telah menggerogoti kebutuhan SPR untuk menahan begitu banyak minyak. Menjual kelebihan, Verlager berpendapat, dan harga minyak dunia akan turun $ 10-12 per barel, dan ini akan membuat Rusia kehilangan $ 40 miliar pendapatan dan membabat 4 persen dari PDB.

 

Akan halnya ancaman pada Rusia untuk penurunan harga $ 12 per barel dari harga tertinggi dalam sejarah di atas $ 100, bisakah dilakukan? Amerika Serikat sendiri tidak mungin melanjutkan melepaskan minyak tanpa batas sampai harganya stagnan dan murah, sehingga Kremlin barangkali bisa mengakali dan beradaptasi dengan taktik Amerika Serikat dengan melakukan pembenahan fiskal, coret anggaran, seraya berharap taktik Amerika Serikat akan menjadi bumerang dan tidak akan efektif.***Int

 

Cara lain untuk menyakiti Rusia sebagai negara penghasil minyak adalah adalah menargetkan ekspor gas. Rusia mengirim 167 miliar meter kubik gas ke Eropa tahun lalu. Hampir setengah dari gas ini melewati Ukraina dan pertengkaran sebelumnya antara Moskow dan Kiev membuat negara Uni Eropa bergeming, dan terutama beberapa di timur yang bergantung pada Rusia untuk semua pasokannya. Untuk Indonesia sendiri, Russia membutuhkan mitra dan buffer untuk saling "berbagi pengalaman fiskal". Siapa sangka kisruh Krimea bisa menguntungkan Indonesia kelak, dan memberikan pelajaran mengenai pentingnya kemandirian fiskal.***Fey