Investor Cemas AkanTerjadi lagi Krisis Moneter seperti 1998

 Investor Cemas AkanTerjadi lagi Krisis Moneter seperti 1998

Setelah mendapatkan manfaat dari tingkat suku bunga ultra-rendah dan pertumbuhan yang lamban di negara maju sejak krisis keuangan tahun 2008, para pengamat menilai pasar di negara berkembang pun kini tidak lagi tampak begitu panas. Banyak ahli strategi pasar merasa takut keran uang murah untuk negara-negara berkembang akan mengering saat ini, di tengah ganjalan besar yang melibatkan US Federal Reserve, Bank of England, dan Bank of Japan di mana mereka mulai membagi bagi resep bagi negerinya sendiri untuk merangsang kembali ekonomi mereka yang sempat mati suri.

 

Lira Turki, Peso Argentina, rupee India dan rand Afrika Selatan goyang dalam beberapa hari terakhir, turun sejalan dengan mata uang dari negara-negara yang kurang bermasalah seperti Meksiko dan Korea Selatan. Beberapa ekonom menengarai adanya krisis pasar yang mirip seperti akhir tahun 1990-an, ketika sistem keuangan negara-negara berkembang runtuh seperti kartu domino.

 

"Kami pikir ini adalah masa yang paling berat di bawah kinerja pasar negara berkembang sejak tahun 1998," jelas Michael Shaoul, Chief Executive Officer of Marketfield Asset Management, yang mengawasi lebih dari biaya fiskal $ 20 miliar, sebagaimana dikutip CNN (28/01). Shaoul mengutip tahun kebijakan ekonomi yang buruk di banyak negara berkembang, diperparah dengan pemerintah masing-masing yang cenderung tidak stabil dan korup. "Investor keluar dari pasar negara berkembang, dan semakin mereka punya alasan untuk keluar, semakin jelas alasan secara umum," katanya.

 

Shaoul juga berpikir investor harus berhenti menyalahkan Fed dan bank sentral lainnya. Dia mencatat bahwa suku bunga telah turun dalam beberapa pekan terakhir, meski pada Desember ada pengumuman the Fed tentang pemotongan program pembelian obligasi bulanan.

 

Akan halnya Wasif Latif, yang mengelola lebih dari $ 57 milyar untuk Investasi USAA, tidak terburu-buru untuk keluar dari pasar negara berkembang. "Sell -off yang kita lihat saat ini tidak luar biasa dibandingkan dengan sejarah yang pernah terjadi," katanya .

 

Latif percaya saat ini pasar negara berkembang tidak akan kena eksodus massal tidak seperti krisis terakhir pada 1997-1998. Saat itu, katanya, pemerintah terlalu dolar minded. Jadi, ketika mata uang mereka jatuh, mereka mengalami kesulitan dalam membayar kreditur. Tapi saat ini resep fiskal di negara berkembang sudah bisa dipatenkan. Indonesia ambil contoh akan mencoba memperkuat rupiah tahun ini dengan beberapa kebijakan yang akan menarik investasi masuk, dan memperkuat kembali ekspor, sejalan dengan pulihnya ekonomi negara besar.***Fey