Insentif Fiskal-Non Fiskal Diharapkan Demi Pemenuhan Infrastruktur Gas

Insentif Fiskal-Non Fiskal Diharapkan Demi Pemenuhan Infrastruktur Gas

Kebutuhan gas secara nasional seharusnya bisa dimaksimalkan, karena adanya Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan agar pemerintah menyetop semua ekspor gas alam, demi pemenuhan di dalam negeri ini. "Tapi tanpa infrastruktur, ekspor gas tidak akan bisa ditekan," jelas Komaidi Notonegoro pengamat energi dan pertambangan dari ReforMiner Institute sebagaimana dikutip dari Vivanews di Jakarta, Selasa, (04/01).

 

Bagi Komaidi akan menjadi sia sia karena "infrastrukturnya tidak ada, sehingga produksi tidak terserap," paparnya, seraya menambahkan bahwa keberadaan Terminal LNG di beberapa tempat strategis pun penting, karena dalam jangka pendek bisa bermanfaat bagi impor gas yang lebih murah.

 

Kebutuhan masyarakat akan gas domestik secara umum naik sembilan persen sejak 2003. Dan sejak tahun lalu itulah alokasi gas domestik menjadi lebih besar senilai 52,15 persen atau 3.660 BBTUD dibandingkan alokasi untuk ekspor.

 

Walau ekspor gas yang bernilai mahal memang bisa menggenjot penerimaan negara di masa sulit ini. Tapi secara jangka panjang, dihentikannya ekspor bisa menjadi bagian strategis untuk ketahanan energi nasional. Bagi Komaidi, semua kemungkinan terbuka beriringan secara paralel, baik ekspor dan pemenuhan dalam negeri bisa berjalan bersamaan, asalkan pemenuhan dalam negeri yang terlebih dahulu dimaksimalkan.

 

Berkenaaan dengan infrastruktur, Komaidi juga berharap pemerintah mengeluarkan langkah strategis, berupa pemberian insentif baik fiskal atau non fiskal, yang bisa menambah nilai ekonomis.

 

"Jangan dalam bentuk subsidi, tapi keringanan pajak atau insentif lain," ujar Komaidi. Seraya menolak anggapan subsidi akan membuat segala sesuatunya murah.

 

Dito Ganinduto dari Komisi VII DPR mengamini Komaidi menurutnya, pemerintah perlu fokus pada kebutuhan domestik dahulu dengan membangun infrastruktur baru yang bisa mengangkat nilai ekonomi gas, terlebih kontrak gas operator sudah mulai habis. "Misalnya kontrak ekspor gas habis pada 2018, infrastruktur sudah tersedia," tanggap Dito.***Fey