Industri Tuna Biang Keroknya, Penangkapan Hiu di Indonesia Mengkhawatirkan

Industri Tuna Biang Keroknya, Penangkapan Hiu di Indonesia Mengkhawatirkan

Penangkapan hiu oleh nelayan lokal Indonesia kini sudah menjadi isu internasional.

Indonesia menangkap rata-rata 109.000 ton per tahun hiu, sehingga tipis batas hitungan apakah indonesia menjadi negara dengan perikanan hiu terbesar di dunia. Namun yang membuatnya unik adalah industri tuna Indoensia yang malah bertanggung jawab untuk apa yang tengah terjadi.

"Banyak upaya konservasi telah difokuskan pada perikanan rakyat skala kecil," kata Andrew Harvey, pemimpin tim Perikanan Berkelanjutan untuk Indonesia Marine & Climate Support (IMACS) proyek USAid ini.

"Tapi armada perikanan industri juga memiliki dampak penting pada populasi hiu. Masalah besar adalah total kurangnya peraturan manajemen untuk sebagian besar spesies hiu -. Tidak ada batasan penangkapan, tidak ada ukuran minimum, dan tidak ada larangan memancing " tambahnya.

Artinya, industri tuna hanya sekedar nama sangkutan, untuk memperlihatkan versatilitas tangkapan nelayan Indonesia yang barangkali kraken raksasa bila bisa dijual pun akan mereka tangkap. Dan kali ini hiu yang bernasib malang, lantaran mudah ditemui.

Ada bukti bahwa kombinasi dari kampanye dan undang-undang yang mengurangi permintaan untuk sirip hiu di Hong Kong dan daratan Cina. Tapi hiu dan dagingnya juga merupakan sumber protein yang penting bagi banyak masyarakat pesisir di Indonesia dan dagingnya dijual di mana-mana termasuk di supermarket.

Menurut
Harvey, Indonesia menandatangani United Nations International Plan for Action for the Conservation and Management of Sharks pada tahun 1999, dan telah mengembangkan rencana aksi nasional berdasarkan rancangan itu.

Tentu saja rencana itu walau sebagus apapun pelaksanaan masih dianggap tidak cukup untuk mempertahankan populasi hiu atau perikanan.

Meskipun tidak adanya rencana nasional yang kuat, ada beberapa bukti pemerintahan yang secara perlahan bergerak ke arah yang benar.

Saat ini, hanya hiu paus, perontok dilindungi oleh hukum Indonesia (perlindungan hanya berlaku untuk ekspor satwa langka). Martil dan sirip putih harus segera menyusul.

Ini semua adalah langkah pertama - mengumpulkan dan menilai data dasar, menetapkan kebijakan, melindungi ekosistem kunci. Tapi tantangan besar adalah penegakan hukum di negara maritim yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau di mana puluhan juta orang bergantung pada perikanan untuk mata pencaharian mereka.***Fey