INDONESIA SURGA SAMPAH PLASTIK, GARA GARA PAJAK, LHO?

INDONESIA SURGA SAMPAH PLASTIK, GARA GARA PAJAK, LHO?

Indonesia darurat sampah plastik, sejauh mata memandang di persawahan, sungai, sudut lingkungan, tebaran sampah plastik seolah menjadi pemandangan yang teramat wajar adanya. Padahal, kerusakan lingkungan, masalah kesehatan, serta dampak kumulatifnya terhadap perekonomian Indonesia teramat sangat mengancam.

Dapat dikatakan bahwa kerusakan yang dihasilkan oleh sampah plastik tidak sebanding dengan kerusakan akibat perang yang terjadi di Indonesia dari sejak era kerajaan Sriwijaya hinga saat ini.

Sampah plastik juga dianggap telah menghancurkan kualitas masa depan anak bangsa, jauh lebih besar dibandingkan feodalisme, penjajahan, perang, serta bencana alam yang telah berlangsung. Artinya kesinambungan serta manfaat pembangunan baik sosial dan ekonomi di Indonesia tengah terancam jika masalah sampah plastik ini tidak diselesaikan.

Dalam penelitian yang diterbitkan oleh suatu jurnal Science disebutkan bahwa Indonesia merupakan sumber sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut setelah China.

Masyarakat Indonesia menghasilkan sekitar 3,2 juta ton sampah plastik pada tahun 2010 dan sekitar 0,48 - 1,29 juta ton limbah itu berakhir di lautan.

Untuk mengatasi ancaman besar ini, pemerintah sejatinya telah membuat roadmap untuk mengurangi limbah sampah plastik sebesar 20% dari sejak 2017 hingga tahun 2019.

Satu rute untuk mencapai tujuan ini adalah dengan mengurangi, mendaur ulang, dan menggunakan kembali sampah plastik dan mengembangkan produk plastik ramah lingkungan serta biodegradable yang dinamakan sebagai bioplastik.

Namun, industri bioplastik serta plastik daur ulang Indonesia, yang diharapkan dapat membantu pemerintah mengatasi kegagalan masa depan, malah kurang mendapat dukungan pemerintah.

Alih-alih menerima insentif dari pemerintah, entah dari sisi riset, maupun kepastian pasokan bahan baku, sektor ini ikut lumpuh oleh berbagai pajak yang telah menghambat pertumbuhannya.

Walaupun demikian sebagaimana yang dikutip dari Wbur.org, Kevin Kumala, co-founder dan CEO dari Avani Eco, salah satu perusahaan besar pengolahan limbah plastik, bahwa kebutuhan biopastik akan cenderung meningkat, dan ikut mendukung produksi pangan.

"Di Indonesia diproduksi sebanyak 25.2 miliar ton singong pertahun, artinya di masa depan, singkong ini akan menjadi komoditas paling dicari dan paling menjanjikan."

Namun tentu saja, hambatan pajak, akan turut pula melemahkan perkembangan sektor menjanjikan yang juga menjaga keselamatan ummat manusia serta dunia ini pada umumnya.***Red