Fokus WEF : Kanker, Diabetes, Jantung Rugikan Indonesia Rp 54 Triliun

Fokus WEF : Kanker, Diabetes, Jantung Rugikan Indonesia Rp 54 Triliun

Tidak ada kemajuan yang tidak membawa "tagihan" tambahan, begitu pun Indonesia yang selama satu dekade muncul sebagai ekonomi terkuat di Asia Tenggara berkat kenaikan pendapatan nasional bruto per kapita akan ada selalu bahaya besar mengintai di balik segala kemajuan yang telah dicapai.

Salah satunya adalah serangan P
enyakit Tidak Menular (PTM), yang dalam estimasi Forum Ekonomi Dunia (WEF) bisa merugikan Indonesia sebesar $ 4,5 miliar (setara 54 triliun rupiah) dalam rentang 2012-2030.

Jumlah tersebut,
lebih dari lima kali produk domestik bruto Indonesia (PDB) pada tahun 2012.

PTM ini meliputi penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan kronis, diabetes, dan kondisi kesehatan mental, yang menyumbang 71 persen dari total kematian di Indonesia pada tahun lalu, naik dari 50,7 persen pada tahun 2004.

Penyakit jantung kardiovaskular adalah PTM yang paling mahal, yang memberikan bencana loss 39,6 persen dari total loss
GDP.

Dua faktor utama yang mendasari kenaikan ini jelas WEF : "Pertama, penurunan terus menerus dalam fertilitas dan mortalitas yang telah menyebabkan penuaan masyarakat. Kedua, pertumbuhan ekonomi telah disertai dengan urbanisasi yang cepat ini telah menyebabkan peningkatan yang stabil dalam.. prevalensi faktor risiko seperti penggunaan tembakau, penggunaan alkohol yang berbahaya, pola makan yang buruk dan gaya hidup."



PTM memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan karena mempengaruhi berbagai faktor termasuk pengeluaran konsumsi, tabungan ke kesehatan, ketersediaan tenaga kerja dan produktivitas.

"Kematian karena PTM langsung mengurangi pasokan tenaga kerja dengan mengurangi jumlah individu pada usia kerja. Penurunan ukuran angkatan kerja kemudian diterjemahkan ke dalam kerugian output agregat," jelas laporan tersebut.

Beban PTM di Indonesia lebih parah dibandingkan negara tetangga dalam hal absolut maupun relatif, yang berarti Indonesia akan melihat penurunan lebih besar dalam kapasitas produktifitas.***Red (NBC)