Fiskal dan Komunikasi Massa, Pembumian Fiskal ver 2.0

Fiskal dan Komunikasi Massa, Pembumian Fiskal ver 2.0

Kita masih berada dalam satu lingkaran zaman di mana orang orang mustahil akan bilang “hari geene ngga kenal fiskal,” kepada teman teman sepergaulannya. Mengapa? Karena permasalahan fiskal masih wilayah ekslusif berputar kepada mereka yang berkepentingan, namun anehnya secara paradoks hampir setiap hari orang orang membicarakan fiskal tanpa mereka sadari bahwa fiskal yang mereka bicarakan.

 

Fiskal barangkali berada masuk dalam entri buku kamus “kata kata penting tapi tidak menarik” bersama “kenop pintu”, “kompor”, “korek api”, “lilin” dst, yang walaupun mayoritas dari manusia akan berhadapan, dan berharap banyak pada benda benda yang saya sebutkan, di mana apabila benda benda tersebut hilang akan memusingkan, namun mereka tidak mengenangnya dan tidak menyukainya.

 

Hal lainnya adalah familiaritas. Sebagaimana disebutkan dalam teori komunikasi era 60 an, teori Jarum Hypodermic, di mana dengungan symbol dan istiah tertentu yang disebar luaskan melalui media massa secara berulang ulang, akan membentuk narasi di masyarakat, sehingga masyarakat memiliki awareness yang tinggi pada simbol tersebut. Saya ceritakan dahulu asal mula teori ini, karena mau ga mau bakal nyambung dengan apa yang kita sebut sebagai “Pembumian Fiskal 2.0”

 

Teori ini lahir sebagai buah dari kasus kehebohan sandiwara radio “Serangan Orang Orang Mars,” di Amerika Serikat. Saking hebohnya kisah itu, sehingga sebagian besar orang Amerika percaya bahwa orang Mars tengah menyerang bumi, sehingga paranoid masyarakat tergambarkan pada aksi nyata, seperti ada yang membuat bunker, mulai mengisi cadangan makanan digudang bawah tanah, karena benar benar takut bumi di serang alien asal Mars.

 

Era 60 an, di mana orang Amerika masuk ke dalam abadnya pop melalui karya karya seni popular yang dibawakan oleh Andy Warhol, turut pula disusupi oleh master master penulis horor yang bisa membuat iri Edgar Allan Poe, bahkan Marquis De Sade. Mereka membentuk watak manusia Barat era 60 an, manusia yang di satu sisi mendambakan kualitas hidup, di sisi lain merasa takut hidup akan di renggut dari diri mereka, ini menjadikan setiap pemerintahan bisa menanamkan rasa takut melalui citra media, sebagaimana penelitian Paul Lazarsfeld bahwa terpaan media cukup ampuh menggiring masyarakat tetap ketakutan dan oleh karena itu tetap bisa dikendalikan.

 

Abad Pembungkaman Dan Mimpi Siang Bolong

Apabila filsuf Jean Paul-Satre menyebut era 60 an di Eropa sebagai zamannya “reasoning” zamannya penjelajahan pemikiran pemikiran baru, meninggalkan segala yang dipandang sebagai paradigma klasik. Maka di Amerika Serikat dimunculkan era “kill the reason” musnahkan segala daya nalar kritis, karena itu akan membahayakan pemerintahan dan stabilitas. Namun mereka mengakui bahwa membunuh rasa penasaran tidak mungkin, maka dari itu, sebagaimana dalam penelitian Douglas Kellner (1985) dan apa yang dikisahkan oleh para penulis postmo, di Amerika Serikat harus selalu muncul “musuh bersama” sebagai bentuk pengalihan, agar masyarakat tidak serta merta berpikir kritis, terutama pada wilayah politik dan ekonomi.

 

Bersamaan dengan itu, orang orang terpilih masuk ke dalam liga pemikiran yang ekslusif, di mana kekuasaan ilmu hanya dimiliki oleh mereka yang mampu membayar, atau memiliki kelas sosial tersendiri di masyarakat. Posisi posisi penting secara bergiliran diserah terimakan kepada golongan itu Itu saja. Dan begitulah yang terjadi dan menjadi dogma pemahaman di Amerika Serikat, dan Indonesia adalah salah satu follower nya, dengan satu alasan, sama sama membenci komunisme dan sama sama mengusung feodalisme. Sehingga pada akhirnya, apa yang semestinya penting menjadi tidak penting.

 

Bangsa ini pada orde baru pernah dilarang berkisah di antara mereka bicara tentang anggaran pemerintah. Mereka pun dilarang melakukan telaah kritis tentang bujet negara, ke mana perginya? Bagaimana hitungnya? Dari mana dapatnya? Sampai mana pertanggungjawabannya. Jika ada yang nekat mau membongkar urusan fiskal untuk diberitakan pada orang banyak, di masa itu orang dengan mudah bisa kena cap komunis. Karena ujungnya pasti meminta bagian, sementara kata dibagi bagi sama rata, sosialis, progessif, keynesian, dll melanggar prinsip ekonomi Orde Baru yang mendasarkan diri pada teori ekonomi klasik, Trickle Down Effect.

 

Akan halnya semangat diam diam menjadi sosialis, bahkan sedikit nyerempet komunis, malah tercantum pada UUD 1945 pasal 33 yang luar biasa popular jadi lamunan siang bolong resmi para bujangan, pengangguran, aktivis, dan mereka yang punya satu dua potong kesadaran merubah Indonesia. Pasal 33 tersebut jadi pelipur lara, mengetam lama di benak masyarakat yang masih ditundukkan melalui Terror imajinasi a’la Lazarsfeld dan Teori Jarum Hypodhermicnya. Di mana media massa dikangkangi pemerintah sentralistis Orde Baru.

 

Sampai akhirnya era demokratisasi muncul pada 1999. Dan masyarakat yang menyimpan dendam kesumat pada penafsiran pasal 33, bagai balon becah yang membuat telinga pekak, langsung sama sama ingin penyelesaian cepat, singkat, langsung manjur pada masalah fiskal negara. Bagaikan apa yang tertulis dalam naskah proklamasi kemerdekaan, hal hal mengenai “pemindahan kekuaasaan dan lain lain” akan diselenggarakan dalam waktu sesingkat mungkin.

 

Mereka terburu buru ingin segera memastikan anti tesis Orde Baru berhasil, yakni ekonomi kerakyatan sebagaimana yang mereka tafsirkan pada pasal 33 UUD 45. Tapi satu hal yang belum dipastikan, adalah mereka lupa mereka sedang bicara fiskal. Sementara fiskal adalah proses berperiodik yang tidak semudah membalik telapak tangan lalu semuanya bisa diatur. Rakyat yang sekian lama dilumpuhkan oleh teori Jarum Hypodhermic berharap penanganan kontan pada ekonomi dan pemerataan langsung, sebagaimana permainan imjinasi mereka tentang pasal 33 UUD 45 karena terpaan media begitu hebatnya membentuk nalar bangsa ini.

 

Komunikasi Massa Jadi Gerbang Fiskal

 

Ketika saya dipercaya kepemimpinan Assosiasi Fiskal Indonesia (AFI), saya barangkali berada dalam posisi sama bingungnya dengan ketua ketua AFI sebelumnya. Di mana saya mesti memulai? Dalam bagaimana AFI bisa berperan di tengah masyarakat dan secara riil bisa dirasakan keberadaanya? Yang tentu saja mesti beranjak lebih jauh dari satu meja pertemuan ke meja lainnya. Dari corong seminar ke seminar lainnya. Akhirnya saya berkesempatan mendapati bahwa Ketua Dewan Pembina AFI adalah bos Media raksasa, dan Ketua Dewan Penasihat kita adalah seorang media darling. Dan beberapa patron AFI adalah mereka yang berkiprah sebagai aktivis pro perubahan dan demokratisasi. Maka adalah langkah yang penting dan perlu, AFI membiasakan diri dengan media komunikasi massa.

 

Hal yang paling pertama dipelajari adalah kenali ini zamannya apa? Orang orang sedang tertarik melakukan apa? Dan mulailah kita mengenal istilah kata kunci, web 2.0. Komunikasi Massa kini bertumpu pada saluran dan media nirkabel, bersifat maya dinamakan internet. Bukan sekedar internet tapi web 2.0 di mana identifikasi permasalahan sudah bisa di “wiki” kan, di “leak” kan, di “youtube” kan, dan di “Twitt” kan. Fiskal contohnya, Anda browsing Anda searching Anda googling, dan menyedihkan fiskal bukan keyword popular. Salah satu ciri suatu keyword begitu tidak popular adalah saat Anda googling, jatuhnya keyword itu ke situs pemerintah. Artinya, masyarakat masih belum memahami arti pentingnya fiskal.

 

Dari sini saja, dan dalam posisi saya yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Fiskal, dan seseorang yang memperhatikan dan berpusing pusing dengan istilah tersebut, tidak perlu tengok kiri kanan, saya langsung subsribe pada pokok masalah : bumikan fiskal pada web 2.0.

 

Dan kita belum terlambat melakukan itu. Di saat banyak negara maju dan para elite politik serta para konglomerasi sekarang mulai sadar, bahwa mereka tidak bisa lagi berjuang sendiri memajukan negara. Demi menjamin hajat hidup terutama bagi diri sendir, mereka membutuhkan kesinambungan fiskal, dan itu tidak bisa dilakukan sendirian atau lewat rapat rapat ekslusif liga ilmu, dan liga politik. Mereka bumikan istilah fiskal dengan cara sendiri.

 

Di Amerika Serikat, kecewa dengan cara elite elite Wall Street menangani ekonomi, dan membiarkan China melaju sendirian leading pada ekonomi dunia, pemerintah Washington kini melempar tanggungjawab fiskal juga pada warga negaranya. Katup Hypodermic disumbat selamanya, di web 2.0 tidak ada lagi rahasia rahasiaan, semua bisa dibuka, bisa diakses, dan bisa dibully. Anggaran jadi pembahasan milik bersama, melalui saluran komunikasi massa, dan Indonesia baru masuk ke kesempatan pertamanya. Saya jemput itu.****

 

Erwin Eka Kurniawan, SE, MSi - Ketua Umum Asosiasi Fiskal Indonesia