Demi Petani! Indonesia Tolak Impor Di Tengah Perang Harga Beras Murah

Demi Petani! Indonesia Tolak Impor Di Tengah Perang Harga Beras Murah

Demi mengangkat moral para petani saat temu wicara perencanaan pembangunan daerah di Jawa, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan bahwa pemerintah telah menolak tawaran Thailand untuk memasok 1,5 juta ton beras dengan harga sekitar Rp 4.000 per kilogram, meskipun harga impor jauh di bawah harga lokal, yang saat ini ada pada sekitar Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per kilogram.

Mentan menyatakan bahwa pemerintah akan dapat untung sekitar Rp 6 triliun jika impor beras dari Thailand diterima. Namun, pemerintah memutuskan untuk tidak mengambil impor tersebut.

Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengimpor beras pada tahun 2015 dan akan fokus pada pencapaian swasembada produksi beras serta meningkatkan standar hidup para petani padi. Amran juga menambahkan bahwapemerintah tetap memantau ketersediaan stok beras secara teratur dan memastikan bahwa harga tidak akan "lepas dari sarang" karena kekurangan stok.

Mentan sebelumnya juga mencatat bahwa dalam rangka meningkatkan produksi beras pemerintah perlu mengatasi isu-isu tertentu seperti saluran irigasi yang rusak, distribusi pupuk dan bibit tidak efisien, alat-alat pertanian dan kurangnya penyuluhan pertanian. Dia menambahkan bahwa pemerintah berencana akan mendistribusikan 57.000 ton pupuk dan benih pada sekitar lima juta hektar sawah di seluruh Indonesia.

Badan survei pangan
USDA memperkirakan Indonesia bisa memproduksi sekitar 36,5 juta ton beras, dasar giling (sekitar 57.48 juta ton, basis padi), dan mengimpor sekitar 1,3 juta ton beras sisanya. Konsumsi beras pada tahun 2015 diperkirakan mencapai sekitar 39.200.000 ton.


Lalu bagaimana nasib Thailand? Cukup ironis karena sebagaimana Thailand berjuang mencari pasar untuk beras, Vietnam sebagai pesaingnya juga dipertimbangkan akan menurunkan harga penjualan yang kebanyakan diserap oleh China. Kengototan Indonesia untuk swasembada di tengah perang turun harga cukup "luar biasa".****Red (Oryza, Truoitnews)