Dampak Liberalisasi Perdagangan

Dampak Liberalisasi Perdagangan

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan arus perdagangan luar negeri yang cukup pesat. Kecenderungan dari globalisasi membuat penataan perdagangan internasional yang berujung pada peningkatan volume dan nilai perdagangan internasional  antar negara. Di tahun-tahun ke depan, terutama dengan pasar bebas di 2015 nantim hal ini menjadi tak terhindarkan.

Dibuatlah berbagai kesepakatan multilateral seperti WTO, regional melalui ASEAN, dan bilateral menandai bahwa batas ekonomi antar negara semakin memudar. Indonesia pun ikut terlibat dalam beberapa kerjasama perdagangan regional dan bilateral ini.

Kerjasama-kerjasama perdagangan secara garis besar bisa digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu Free Trade Area (FTA) dan Economic Partnership Agreement (EPA). Dalam prakteknya, FTA dan EPA menyepakati bahwa sedikitnya 90% dari seluruh produk yang diperdagangkan mestinya diturunkan tarif bea masuknya ke negara secara bertahap. Dengan adanya liberalisasi kerjasama perdagangan internasional, tarif bea masuk mulai diturunkan.

Ketentuan perjanjian penurunan tarif bea akan berlaku timbal balik untuk semua negara-negara anggota. Ketentuan  ini adalah sarana utama untuk mencapai sasaran globalisasi perdagangan antar negara, yaitu untuk meningkatkan perdagangan antar negara berupa peningkatan ekspor dan impor.

Dari sisi pendapatan negara, dampak keterlibatan Indonesia dalam FTA maupun EPA akan memberikan dampak pada pendapatan negara terutama pada pos Pajak Perdagangan Internasional, yaitu bea masuk dari kegiatan impor dan bea keluar dari kegiatan ekspor.

Selain peningkatan penerimaan pada pos pajak perdagangan internasional, peningkatan penerimaan perpajakan juga akan terjadi dengan =jumlah barang impor yang diperdagangkan meningkat, sehingga PPN, PPh  dan PPnBM barang Impor turut meningkat. ***intan