Dalam Lima Tahun, Indonesia Bisa Jadi Pusat Studi Islam

Dalam Lima Tahun, Indonesia Bisa Jadi Pusat Studi Islam

Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) menyatakan kesetujuannya untuk gagasan mengusung Indonesia menjadi pusat studi Islam dunia. Ia berpikir bahwa hal ini dapat menjadi visi Ditjen Pendis dan program kerja akan disiapkan ke arah tersebut.

“Itu visi Ditjen Pendis sesungguhnya dan untuk mengarah ke sana kami punya konsepnya di Pendis, di antaranya program 50.000 doktor, 10.000 hafiz, santri berprestasi dan sejumlah program strategis di Ditjen Pendis (lainnya),” ujarnya (30/12).

Untuk target implementasi dari rencana ini diucapkan oleh Kamaruddin bahwa akan dibutuhkan waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. “Mungkin butuh satu atau dua RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional),” ujarnya.

Sebelumnya, memang Mahfud MD, Koordinator Presidium KAHMI (Korps Alumni HMI), bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla, (29/12). Ia memberikan wacana agar Indonesia menjadi pusat pemikiran Islam. Ia pun menegaskan bahwa pembelajaran untuk hal ini membuat orang tak perlu berangkat ke Timur Tengah.

“Masa kita belajar Islam harus di Timur Tengah, sementara Timur Tengah sendiri tidak bisa memberi, menjadi contoh yang baik, pertikaian, pembunuhan terjadi di sana,” ucapnya.

Menurut Mahfud memang Indonesia berhasil mengembangkan Islam yang rasional dan moderat, menjadikan bahwa pemikiran Islam bisa lebih berkembang di sini.

Namun menurut Kamaruddin, ia masih menyetujui pengembangan Islam dengan mengacu pada Timur Tengah. Pengembangan pendidikan Islam hendaknya mempertahankan tradisi keagamaan di masa Sahabat dan Tabiin sebagai rujukan nilai dalam kehidupan. “Ilmu tentang hal itu penting dan Timur Tengah kuat untuk itu,” tutupnya. ***intan (Sumber: Antara)