Budaya Politik Kelambu di Indonesia, Jihadnya Politisi Negarawan

Budaya Politik Kelambu di Indonesia, Jihadnya Politisi Negarawan

Oleh : Erwin Eka Kurniawan

 

Pernah ada orang yang bilang bahwa judul-judul film Indonesia di masa 70-80-an itu sangatlah imajinatif, sangat memberikan kesan avant garde selalu ingin lebih depan dari yang lain. Saya sepakat itu. Sebut saja di antaranya: Layar Terkembang, Ponirah Terpidana, Gadis Marathon, Kabut Sutera Ungu, Pacar Ketinggalan Kereta, Di Balik Kelambu... Nah terutama Di Balik Kelambu. Ada apa kiranya Di Balik Kelambu itu? Saya senang dengan judul filmnya saja, sehingga sering saya kelakarkan dengan kawan-kawan saya.

Kawan saya bilang ada permainan seru dari balik Kelambu, bagai politik di Indonesia. Segala sesatu segamblang adanya di atas meja makan, yang lawan, yang kawan, yang khianat, yang setia terlihat di atas meja makan, sama-sama makan, sama-sama hidup. Tapi keseruan meja makan berlanjut ke bilik kelambu. Bilik tempat tidur yang diselubung oleh kelambu atau kain anti nyamuk. Kita ibaratkan di sini yang dimaksud nyamuk adalah masyarakat dan pers pada umumnya.

Masyarakat tidak pernah tahu ada apa dibalik kelambu yang para politisi. Main macam apa, keseruan macam apa. Mereka hanya melihat hasilnya sebagaimana yang dicatatkan di twitter atau lini sosial media lainnya, setelah dikopas dari hasil telusuran pers yang menerawang ada apa di balik kelambu tersebut. Kebanyakan terawangan tersebut tidaklah jitu, mengandung prasangka, dan mengundang polarisasi antar anak bangsa, yang makin terpecah saat politisi ada yang kian ke kanan, ada yang nyaman berkerumun di kiri.

Maka perkenankanlah saya buka-bukaan pada Anda. Perkenanan saya memberitahu apa kiranya yang ada di balik kelambu tersebut. Sesungguhnya, apa yang ada dibalik kelambu adalah kelambu yang lain. Tabir yang lain, layer-layer penutup lainnya. Sebuah lapisan rahasia lain yang bahkan para politisi pun segan memasukinya.

Memang benar ada kasak kusuk transaksional politik, lobby lobby politik kelas tinggi pada tutupan kelambu pertama, yang mendudukan orang perorang ke masing-masing jabatan publik, anggota DPR, DPRD, Gubernur, Bupati, bahkan Presiden. Namun kelambu berikutnya sudah world class, permainan kasak-kusuk next level yang hanya mampu dimasuki oleh beberapa politisi, dengan ide, ide, dan ide yang banyak.

Artinya, cukup sedikit politisi kita yang berani bermain di wilayah itu, kebanyakan mereka cukup nyaman di layer kelambu pertama. Cuap-cuap, tanda-tangan, terima duit, beres. Tipe-tipe politisi karyawan yang berfungsi sebagai baut dalam mesin-mesin politik Indonesia. Tapi untuk layer kedua, adalah bagiannya para negarawan, mereka tidak peduli dengan uang, tidak peduli bahkan dengan jabatannya sendiri. Bagi politisi layer kedua, menjadi masterminds adalah tujuannya.

Politisi layer kedua mencoba mengerti bagaimana masyarakat ini berjalan, mencari arah tujuan. Masyarakat yang tersesat dalam simulasi abad-21, terasing dalam globalisasi, terjebak xenophobia (anti orang asing) parah, lalu saling menyakiti diri melalui cara berkelompok, seolah cara keroyokan masih ampuh digunakan untuk menyelamatkan diri di dunia yang semakin digital ini. Politisi layer kedua boleh jadi ada di antara mereka yang belum menjabat, tengah menjabat dan melakukan sesuatu yang hebat, atau berada di luar grid politik praktis, menjadi aktivis politik melalui skema-skema penyelamatan bangsa serta umat manusia lewat bisnis-bisnisnya. Yang menjadi pusat perhatian para politisi layer kedua, saat ini adalah kelompok yang berkerumun (crowd).

Yang berkerumun itu menyudut penuh ketakutan. Mereka terserang delusi rasa sakit, merasa jadi korban, merasa dikorbankan oleh pemerintahnya, merasa ditinggalkan oleh masyarakat mayoritas, bahkan merasa terancam oleh minoritas. Mereka berkerumun di ruang terbuka, memohon datangnya Ratu Adil, memohon agar derita politik mereka dihilangkan.

Ini Indonesia. Negara kita menyimpan potensi crowd yang besar, menyimpan potensi massa-massa pengerumun dengan aspirasi politik yang absurd, tidak text book, namun berasal dari sebaran kabar bohong, atau kabar buruk yang berlebihan dituliskan. Suatu saat crowd itu akan meledak menjadi kerusuhan nyata (mob), atau lebih jauh melahirkan generasi-generasi penerus yang kehilangan tumpuan tulang belakang, generasi penerus yang dipenuhi rasa takut, kepengecutan sebagaimana orang tua mereka.

Ini melanjutkan budaya politik parokial yang telah lama mengetam bangsa ini sampai akhirnya reformasi menggugah mereka, tapi tidak lama berselang saat budaya paroki ini belum luntur, masyarakat mesti menghadapi ekspresi paling liberal dari budaya politik partisipan yakni Pemilihan Presiden Langsung. Perubahan budaya politik yang signifikan ini ternyata belum siap dihadapi oleh bangsa kita. Walau bangsa ini membutuhkan hal-hal yang secara signifikan bertolak belakang dari kebiasaan mereka sehari-hari, agar bisa digugah untuk maju.

Lalu. Bagaimana sikap politisi sebagai negarawan memperbaiki semua ini? Bagaimana kiranya loby politik yang mujarab yang mampu menghentikan politik crowd yang tengah berlangsung saat ini? Saya sendiri belum tahu pasti. Sejauh mata memandang, saya hanya menemukan rekan sesama politik yang masih nyaman di layer pertama. Tidak ada idealisme, tidak ada keresahan kecuali bagaimana hitungan politik transaksi dijalankan.

Kemudian semua ini bisa terus berlanjut, sampai akhirnya semua politisi tersadar. Semua politisi harus mampu melihat bahwa rakyat ternyata saat ini menyelubungi diri mereka masing-masing dengan kelambu. Politisi tidak bisa lagi melihat apa yang menjadi mata batin rakyat, tidak mampu membaca dengan jernih keinginan rakyat yang telah berkerumun menyudut serta tertutup kelambu kegelapan. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh seorang negarawan.

Saya pikir para politisi wajib terus menunjukkan jalan terang bagi mereka yang tetap ingin percaya akan bahwa pertolongan serta kebalikan Tuhan tetap melimpah di Negeri ini. Politisi harus tetap tunjukkan suatu kebenaran bahwa Allah SWT mencintai bangsa Indonesia, mencintai NKRI, dan berharap kita terus berkerjasama membangunnya, lalu tetap menghalau ribuan kabar bohong yang menakut-nakuti bahwa Allah membenci kita sehingga kita kalut dan saling menyakiti. Kita cukup tunjukan, dan terserah mereka ingin percaya bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, atau percaya Allah yang meninggalkan mereka?***