Bank Indonesia Khawatirkan Tentang Utang Luar Negeri Perusahaan Lokal

Bank Indonesia Khawatirkan Tentang Utang Luar Negeri Perusahaan Lokal

Meskipun rasio utang terhadap PDB Indonesia saat ini masih pada tingkat yang aman di sekitar 32,8 persen, bank sentral negara (Bank Indonesia) menyatakan keprihatinannya tentang tingginya debt service ratio (DSR) dan rasio utang terhadap ekspor.

 

DSR adalah rasio pembayaran utang (pokok dan bunga) suatu negara terhadap pendapatan ekspor. Umumnya, rasio yang sehat adalah suatu tempat di kisaran 0 dan 20 persen. Namun, DSR Indonesia telah meningkat dari 20 persen pada 2007 menjadi 50 persen pada tahun 2014.

 

Sementara itu, rasio utang terhadap ekspor meningkat dari 35 persen pada 2007-128,8 persen pada kuartal kedua 2014.

 

Bank Indonesia mengumumkan akan menerapkan pendekatan kebijakan baru dalam rangka untuk menurunkan rasio tersebut ke tingkat yang lebih aman. Tujuan utama dari kebijakan baru ini adalah untuk mencegah perusahaan-perusahaan lokal untuk terlibat dalam pinjaman dalam mata uang asing.

 

Terutama perusahaan lokal dalam sektor energi, manufaktur, dan sektor telah mengambil pinjaman luar negeri (misalnya, untuk pembangunan pembangkit listrik atau manufaktur mobil) yang telah dibebani rasio tersebut. Selain itu, meningkatkan risiko ketidaksesuaian mata uang dalam kasus depresiasi rupiah dan perusahaan lokal.

 

Mengenai ketidaksesuaian mata uang, survei Bank Indonesia baru-baru ini diperlihatkan bahwa hanya 12 perusahaan (dari 100 perusahaan yang paling berhutang di Indonesia) telah melakukan lindung nilai utang, sementara 12 lainnya memiliki lindung nilai alami saat pendapatan ekspor mereka dihasilkan dalam dolar AS.

 

Ini berarti bahwa di antara 100 perusahaan yang berhutang di Indonesia, 76 memiliki utang yagn sulit untuk dibayar kembali dan dengan demikian rentan terhadap guncangan mata uang.

 

Menurut data terbaru yang disediakan oleh Bank Indonesia, utang luar negeri Indonesia pada April 2014 tercatat sebesar USD $ 276 milyar (naik 7,6 persen dari April 2013), yang terdiri dari utang luar negeri sektor publik sebesar USD $ 131,0 miliar dan swasta utang luar negeri sebesar USD $ 145 milyar. ***int (Sumber: Indonesia Investments)