Bank Dunia : Ekonomi Indonesia Tumbuh, Selepas September Terbukti Meroket

Bank Dunia : Ekonomi Indonesia Tumbuh, Selepas September Terbukti Meroket

Nilai tukar rupiah menguat tertinggi di Asia setelah membanjirnya gelontoran dana asing yang masuk ke bursa saham dan obligasi di tengah spekulasi ekonomi Indonesia yang cenderung melonggar karena Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini, plus upaya paket ekonomi dari presiden Joko "Jokowi" Widodo.

Investor luar negeri menyapu bersih saham Indonesia senilai $ 52 juta dalam empat hari sampai Kamis dan menambah 2,67 triliun cadangan dollar terhadap rupiah.

Jokowi sendiri tengah mengumumkan paket kebijakan kelima untuk menopang perekonomian, Kamis (24/10) lalu, di mana produk domestik bruto meningkat 4,85 persen dari tahun sebelumnya pada kuartal ketiga, lebih dari 4,67 persen pada periode sebelumnya.

Rupiah lalu beruntun menurun empat hari untuk naik 0,5 persen menjadi 13.655 dolar di Jakarta, harga dari bank lokal menunjukkan. Mata uang rally 7,4 persen bulan ini menjadi performa terbaik di Asia.

"Kami melihat beberapa aliran yang mendukung rupiah karena pasar tidak membeli gagasan bahwa Fed serius menaikkan suku bunga pada bulan Desember," jelas Irene Cheung, ahli strategi mata uang di Australia & New Zealand Banking Group Ltd di Singapura. "Paket kebijakan keempat direspon positif, jadi kita akan lihat apa yang mereka sikapi untuk paket kelima." tambahnya.

Pemerintah menurunkan harga energi dan tarif listrik untuk sektor industri di putaran keempat dari paket stimulus pekan lalu, langkah-langkah untuk mengurangi birokrasi dan mempercepat izin usaha sebagai berikut. investasi asing langsung pada kuartal ketiga tercatat $ 7,3 miliar, sama seperti pada periode sebelumnya.

Belanja publik Indonesia juga naik signifikan sejak Juli sehingga Bank Dunia melalui perwakilannya menyambut positif perubahan mood di Indoneisa. "Benar-benar berita baik untuk pertumbuhan," jelas Ndiame Diop, ekonom utama Bank Dunia untuk Indonesia. Selepas september ekonomi Indonesia benar benar tengah meroket.***Red (Bloomberg)