Bagaimana Kebijakan Fiskal Diskresioner harus Sejalan dengan Kebijakan Moneter

Bagaimana Kebijakan Fiskal Diskresioner harus Sejalan dengan Kebijakan Moneter

Kebijakan fiskal diskresioner harus bekerja sejalan dengan kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank sentral dalam hal ini adalah Bank Indonesia. Jika ekonomi tumbuh terlalu cepat, kebijakan fiskal dapat membuat atau dijadikan rem fiskal dengan cara menaikkan pajak atau memotong pengeluaran, dan pada saat yang sama Bank Indonesia akan pula mengimbangi dengan kebijakan moneter kontraktif dengan cara menaikkan tingkat suku bunga.

Jika ekonomi berada dalam kondisi resesi, kebijakan fiskal diskresioner dapat menurunkan pajak dan meningkatkan pengeluaran sementara Fed mengesahkan kebijakan moneter yang ekspansif dengan cara menurunkan suku bunga acuan, sehinga bisa memompa likuiditas ke dalam sistem keuangan dan pasar dengan alat-alat kebijakan lain, seperti pelonggaran kuantitatif atau Tapering. 

Dalam kasus Indonesia, yang terjadi malah pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia mencoba mengalahkan pelonggaran kuantitatif yang diberlakukan oleh negara besar bernama Amerika Serikat pada medio 2013.

Ketika kedua intansi ini bekerja sama, kebijakan fiskal dan kebijakan moneter bisa bertindak sangat powerfull untuk mengusir semua ketidak pastian ekonomi dan menjadi resep baik dalam menghadapi tahapan siklus bisnis entah saat resesi atau saat deflasi.

Namun,karena politisi biasanya memberlakukan kebijakan fiskal ekspansif tidak peduli apapun situasi ekonomi yang terjadi, maka pada akhirnya akan terserah kepada pihak Bank Indonesia untuk mengelola kebijakan ekonomi mereka.

Kebijakan fiskal ekspansif tanpa henti akan memaksa Bank Indonesia untuk menggunakan kebijakan moneter kontraktif sebagai rem ketika ekonomi sedang booming. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi modal dan likuiditas, terutama untuk kredit usaha kecil dan kredit di pasar perumahan. Ini akan menghalangi keleluasaan Bank Sentral dalam mengurangi fleksibilitas.***Fey