Asosiasi Keluhkan Insentif Pajak Industri Otomotif

Asosiasi Keluhkan Insentif Pajak Industri Otomotif

Dunia industri otomotif di Indonesia meminta perhatian lebih dari pemerintah yang selama ini dinilah kurang begitu memperhatikan mereka. Para pelaku industri otomotif meminta, pemerintah memperbaiki regulasi pendayagunaan komponen impor dan insentif pajak, guna meningkatkan daya saing produk otomotif nasional di pasar global.

 

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Noegardjito menuturkan, sebenarnya Indonesia memiliki kemampuan untuk mengimbangi permintaan produk otomotif global. Hal ini nampak dari banyaknya produsen otomotif yang merakit dan memproduksi barang otomotifnya di sini lalu diekspor ke luar negeri.

 

Noegardjito menyebutkan, saat ini ada delapan merek yang menyumbang ekspor otomotif tanah air. Lima besar pengekspor adalah Daihatsu, Toyota, Suzuki, Honda dan Nissan. Tiga merek pengekspor lainnya adalah Hino, Isuzu dan Hyundai.

 

Namun Noegardjito menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah. Bahkan selama ini produsen otomotif tidak mendapatkan insentif pajak dari seluruh nilai penjualannya ke mancanegara.

 

“Pentingnya insentif pajak yang dihitung dari besaran ekspor adalah untuk memicu produsen memperbesar nilai atau volume ekspor, hal itu diterapkan negara-negara lain,” ungkapnya di Jakarta, Rabu, (3/9/2014)

 

Selain itu, kebijakan pemerintah mengenai produksi barang ekspor berkomponen impor, harus laris terjual sebanyak 75% dari nilai impor untuk di kaji kembali. " karena dengan besaran tersebut, para produsen memiliki risiko produksi yang tinggi," pungkasnya. *** kinaya (sumber: bisnis, britaindo)