Antara Bisnis Gaya ISIS dan Bisnis Gaya Jepang

Antara Bisnis Gaya ISIS dan Bisnis Gaya Jepang

Anda perlu tahu warga Jepang. Dalam berbisnis mereka memiliki salah satu ciri khas yang dinamakan Yokonarabi, secara harfiah artinya berdiri horisontal, yang ditekankan pada Yokonarabi adalah agar orang yang sedang berbisnis bisa sama sama berada dalam kondisi mental yang setara. Jika ada kondisi yang timpang, tidak sesuai dengan ukuran hasrat hati, itu akan menjadikan suatu hubungan menjadi tidak seimbang, kurang menyenangkan.

Oleh karena itulah berbisnis dengan orang Jepang, tidak akan pernah muncul suatu keputusan dalam semalam. Saya ingat ingat kembali mengapa pada saat serangan Jepang di Pearl Harbour, mereka bisa saja menguasai pulau itu apabila mendaratkan pasukannya, menguasai jengka demi jengkal, dan secara startegis bisa "membeli waktu" beberapa tahun hingga AS memulihkan kondisi perangnya.

Tetapi para Jenderal Jepang "bermain" Yokonarabi. Tidak akan memberikan keputusan cepat segera dalam kondisi grasa grusu, mereka melakukan imersi pada situasi yang baru, mempelajarinya, demi mengubahnya menjadi keuntungan di hari lain. Perang Dunia Kedua dengan demikian memberikan Jepang pelajaran bagus, ada satu hal yang mereka tidak perlu ngotot lakukan. Dan pada titik tersebut, orang Jepang di era kaisar Showa (Hirohito), mampu memberikan pondasi kejayaan untuk generasi berikutnya, walau mereka kalah perang.

Berbisnis dengan orang Jepang, pada sejatinya adalah berbisnis dengan keluarga mereka pula di masa depan. Mereka membawa pertaruhan besar yang akan menjamin hal hal ideal pada akhirnya nanti. Mereka tidak pernah ragu mempertaruhkan apa yang menurut Anda mahal, asalkan jelas tujuannya.

Dalam hal ini Anda juga perlu tahu bahwa orang Jepang siap untuk kehilangan uang, benda berharga serta nyawa, tapi mereka tidak pernah siap untuk kehilangan rasa malu karena gagal dalam tugas, gagal sebagai personal.

Rasa malu dalam kultur Jepang, adalah tentang Anda dan sikap Anda dinilai oleh orang lain. Mereka keras dalam hal itu. Dan apabila mereka seorang prajurit, nyawa itu murah, kehormatan itu mahal.

Tidak heran prajurit Jepang begitu kejamnya pada bangsa kita pada saat perang dunia kedua, karena mereka melihat budaya orang kita yang "nrimo" orang lain mau gini gitu yo wis saja, asal selamet. Alon alon asal kelakon, dalam hal berkerja, "sedikit sedikit ga masalah lama lama juga jadi."

Anda bisa bayangkan prajurit Jepang yang dididik nyawa itu demi kehormatan bertemu dengan budaya santai masyarakat kita, ya ujungnya romusha, dan apa yang kita sebut sebagai kekejaman, merupakan pendidikan di mata mereka.

Bisnis Dengan Kakap Jangan Pilih Umpan Kosong
Nah, lalu muncul kabar republik teror di Irak dan Syria, ISIS menyandera dua orang Jepang demi tebusan. Haruna Yukawa dan Kenji Goto, keduanya jurnalis juga pekerja sosial, keduanya diancam akan disembelih dan akan dilepas bila Jepang membayar tebusan ratusan miliar.

Bisnis gaya ISIS itu standar. "Cari barang, Dapet barang, Punya barang, Jual barang." Bisnis standar yang setua bisnis itu sendiri, tapi ini gayanya jual maksa, bayar ini barang, atau barang hilang. Nah, orang Jepang sekali lagi ga masalah berapa banyak barang yang hilang, asal rasa malu jangan sampai hilang.

Perdana Menteri Shinzo Abe, yang sukses dalam termnya, serta membawa Jepang dalam situasi finansial yang bagus, situasi fiskal yang ideal pada tahun ini, serta sukses membawakan Abenomic, mengaku tertegun dengan ancaman ISIS pada warganya. Abe juga mengaku kehilangan kata kata mengomentari hal hal jelek yang akan menimpa warganya. Dia mengkritik tindakan ISIS sebagai tindakan percuma. Ya memang percuma buat apa sih?

Dua orang warganya walau bukan expendables, atau orang orang yang bisa direlakan untuk dibunuh begitu saja, juga bukan bagian dari narasi besar Jepang dalam politik luar negerinya. Artinya, apabila keduanya telah dieksekusi dengan sukses saya meyakini tidak akan ada tindakan drastis dari Jepang. Karena orang Jepang lahir ke bumi bukan untuk mengurusi nasib orang perorang, tapi demi membuat tatanan yang nyaman bagi masyarakat mereka sendiri.

Mereka bukan bangsa yang mudah diintimidasi, apalagi oleh teror. Mereka adalah orang orang yang tetap menggelindingkan roda, memutar gerigi, seolah tidak terjadi apa apa, walau seandainya ada rasa sedih di hati, terkejut dan shock menerima kenyataan, mereka mudah move on.

ISIS mengetes bangsa yang salah, dan ini yang membuat saya sedikit ketawa dalam hati. Intimidasi dan sikap offensif ISIS kalau boleh banding bandingan, bahkan belum apa apanya dibandingkan apa yang dilakukan orang Jepang bernama Issei Sagawa pada teman wanitanya di Paris pada 1981. Issei membunuh kawan wanita asal Belanda, mencabiknya dan memakannya, lalu Issei pulang ke Jepang dan jadi selebritis. Jadi selebritis.

Di Jepang modern paska perang (era Heisei) kekerasan dan kegilaan yang dipuja puja itu bisa disebut efek samping dari budaya kerja keras dan rasa malu yang di pacu sampai rpm terakhir. Saat Soko Asahara membunuh ratusan orang dengan racun gas sarin di Stasiun Subway Jepang, namun sikap warga Jepang dingin dan tidak terlalu reaktif pada kejadian tersebut, kita sudah bisa ambil garis besar masyarakat jepang modern tengah merindukan "kekerasan" di luar aturan dan norma.

ISIS pada akhirnya tengah memberikan kursi kehormatan untuk orang Jepang. Mereka melihat warganya di eksekusi sebagai martir, hore.. tirai ditutup dan habis itu tidak ada yang dipusingkan, karena urusan Syria urusannya 'Barat dan Arab'. Bisnis perang di Syria dan Irak tidak menarik untuk negara yang sedang menikmati rezim fiskal yang bagus dan biaya energi yang murah.

Jepang tidak akan terprovokasi oleh umpan kosong ISIS, apalagi mengikuti nafsu bisnis gaya Amerika Serikat saat melancarkan operasi "Infinite Justice" selepas serangan teroris 9/11, karena  karena belakangan diketahui bisnis dan petualangan minyak di Irak dan bisnis pivot pipa minyak Afghanistan, itu tidak seindah harga minyak saat ini.

Dan akhirnya Jepang akan tertarik apabila "bisnis" dijalankan sesuai dengan yokonarabi, juga harus ada objektif yang jelas, termasuk dalam perang terhadap teroris. Mereka tidak akan dengan mudah menggelontorkan kebijakan diskretif khusus deal by deal pada ISIS jika 'pancingannya' hanya sekedar memberi hiburan  pada warga Jepang sendiri.

Kembali mengutip Shinjo Abe yang mengaku tidak bisa berkata apa apa lagi. Karena barangkali dalam hati dia sebenarnya pingin ngomong, "emang gue pikirin."****

Erwin Eka Kurniawan, SE, MSi - Ketua Umum Asosiasi Fiskal Indonesia