Angkatan Laut Kirim 7 Kapal Perang ke Natuna

Angkatan Laut Kirim 7 Kapal Perang ke Natuna

Angkatan Laut Indonesia mengirimkan tujuh kapal perang ke perairan Natuna di Provinsi Sumatera dekat Kepulauan Riau. Kabar yang beredar tujuh kapal perang ini di siagakan untuk mengantisipasi meningkatkannya ketegangan terkait konflik laut Cina selatan. 

 

Namun pihak Angkatan Laut menolak hal ini, juru bicara Angkatan Laut Commodore M Zainudin mengatakan, berangkat nya tujuh kapal perang ke Natuna hanya untuk patroli laut biasa. 

 

" Ini adalah program patroli rutin yang dilakukan oleh angkatan laut untuk menjaga perairan Natuna. Apalagi kegiatan illegal fishing juga sering terjadi di wilayah ini," kata Zainuddin ketika dimintai konfirmasi tentang keberangjatan tujuh kapal pernag tersebut, di Jakarta, Minggu, 8/11/2015.

 

Dia juga membantah jika keberangkatan kapal perang ini dilakukan untuk mengantisipasi eskalasi situasi di Laut Cina Selatan. "Kami tidak terlibat dalam konflik di Laut Cina Selatan. Kami hanya menjaga kedaulatan kami dan NKRI (Negara Kesatuan Indonesia) pertahanan," katanya. 

 

Dia menjelaskan, tidak semua dari tujuh kapal akan ditempatkan di perairan Natuna. "Hanya tiga kapal akan standby di perairan Natuna sedangkan empat lainnya akan di Tanjung Uban pangkalan angkatan laut. Mereka akan disana dan menunggu melakukan gilirannya patroli," katanya. 

 

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa ini merupakan patroli laut rutin berkaitan dengan menjaga kedaulatan dan pertahanan di timur serta wilayah barat indonesia. Dalam patroli ini Angkatan Laut melibatkan lebih dari 40 kapal perang. 

 

"Di wilayah timur Indonesia kita menyebarkan lebih dari 20 kapal untuk menjaga Ambalat, Laut Arafuru dan lain-lain, sementara di wilayah barat ada 20 kapal menjaga Selat Malaka, perairan Natuna dan lain-lain," katanya. 

 

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi juga menegaskan bahwa penyebaran kapal perang di Natuna hanyalah untuk tujuan patroli saja. "Ini adalah operasi rutin. Kami melakukan patroli selama 365 hari untuk menjaga perbatasan serta untuk penegakan keadilan laut di perairan Natuna, Sulawesi atau Samudra Hindia termasuk patroli koordinasi dilakukan bekerjasama dengan negara-negara tetangga," katanya.*** kny (antara)