Aneh, Blogger China Tuntut RI minta maaf atas Film Act of Killing

Aneh, Blogger China Tuntut RI minta maaf atas Film Act of Killing

Lucu, kocak, menggelikan, tapi itulah yang terjadi, karena masuk sebagai nominasi Oscar, film produksi Inggris yang mengisahkan pembantaian PKI di Indonesia telah memicu diskusi panas di media sosial Cina pekan ini, dengan tema sentral film tentang pembersihan kaum komunis di Indonesia. Dan para blogger china, tampaknya mengambil data tidak akurat, berpikir bahwa pembantaian komunis, merupakan pembantaian terhadap etnis China.

 

The Act of Killing, sendri merupakan film dokumenter Inggris pemenang penghargaan buatan tahun 2012, yang melakukan rekontruksi ulang terhadap pembantaian 500.000 orang pengikut PKI dalam data South China Morning Pos Selasa (21/01), dan dinominasikan dalam kategori Feature Dokumenter Terbaik Oscar.

 

Dengan dipilihnya film Inggris tersebut, kemarahan dan sentimen nasionalisme tanpa angin dan hujan malah merebak di kalangan blogger china dan mengira bahwa pembersihan militer terhadap tersangka komunis itu mayoritasnya etnis Tionghoa, dan membandingkannya dengan Pembantaian Nanking pada 1937 oleh tentara Jepang yang menewaskan sekitar 300.000 Cina.

 

Entah dapat data dari wangsit atau dari daun lontar yang mana para blogger itu? Karena sejarawan baik lokal maupun mancanegara seperti gambaran Soe Hok Gie penulis keturunan Indonesia, atau Prof, John Rossa, melihat hanya minoritas China dari minoritas China peranakan yang ada tersangkut paut komunisme. Bahkan pembantaian 65 tidak semata mata menyasar pada orang komunis saja, melainkan para Soekarnois garis keras.

 

Para blogger menuntut agar pemerintah China mengambil sikap lebih keras terhadap Indonesia dengan menulis aksi pembantaian PKI - dipublikasikan dalam buku-buku sejarah Cina.

 

Yang lainnya menyerukan boikot pariwisata terhadap pulau Bali, tujuan populer bagi wisatawan Cina namun dalam gambaran South China Morning Post, menjadi situs dari beberapa pembunuhan terburuk di tahun 1965.

 

"China harus menghentikan pengiriman setiap bantuan asing ke negara barbar ini," tulis seorang microblogger.

 

Lebih konyol lagi, pada satu titik, kritik diarahkan pada pemerintah China karena gagal menyelamatkan warga China selama kerusuhan 1998. Menggarisbawahi pandangan rasis masih juga menghinggapi para blogger China, yang mengklaim warga negara keturunan Indonesia sebagai warga negara China, sebagaimana pandangan diaspora bahwa orang Yahudi sedunia warga negara Israel.

 

Apakah kemarahan ini lantaran larangan ekspor bijih bauksit ke China? Namun karena tidak memiliki amunisi dipakai cara yang paling tidak relevan, yakni film Inggris yang bahkan di Indonesia sendiri tidak diakui dan dilarang tayang.***Fey