Anak-anak Perokok Pasif Beresiko Serangan Jantung, Stroke dan Kerusakan Permanen Arteri

Anak-anak Perokok Pasif Beresiko Serangan Jantung, Stroke dan Kerusakan Permanen Arteri

Para peneliti European Heart Journal mengungkapkan bahwa merokok pasif ternyata bisa menyebabkan kerusakan permanen pada arteri anak-anak, dan secara prematur pembuluh darah mereka akan mengalami penuaan lebih dari tiga tahun.

 

Kerusakan atau penebalan dinding pembuluh darah bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke di kemudian hari.

 

Dalam studi para peneliti yang melakukan test pada lebih dari 2.000 anak-anak berusia tiga sampai 18 tahun, kerusakan terjadi jika kedua orang tua merokok. Para ahli mengatakan tidak ada tingkat "aman" dari paparan perokok pasif.

 

Penelitian tersebut dilakukan di Finlandia dan Australia, dan ditujukan sengaja untuk mengungkapkan efek fisik anak-anak yang tumbuh di rumah penuh asap.

 

Ultrasound scan menunjukkan bagaimana anak-anak yang orang tuanya merokok memperlihatkan perubahan terus menerus dalam dinding arteri utama yang berjalan sampai leher ke kepala.

 

Dr Seana Gall, salah seorang peneliti dari University of Tasmania, menjelaskan bahwa studi mereka menunjukkan paparan asap rokok pasif pada anak menyebabkan kerusakan langsung dan permanen pada struktur arteri.

 

"Orang tua harus berhenti merokok. Dan melindungi kesehatan anak-anak mereka ke masa depan," tegasnya sebagaimana dilansir BBC News (05/03)

 

Seana melanjukan bahwa asap dapat berada di udara selama dua setengah jam bahkan dengan jendela yang terbuka, bahkan bahayanya masih ada jika seseorang sudah merasa tidak dapat melihat atau mencium baunya

 

Perokok pasif akan bisa menghirup lebih dari 4.000 bahan kimia, beberapa di antaranya diketahui menyebabkan kanker. Anak-anak yang menjadi perokok pasif mengalami peningkatan risiko asma, batuk dan pilek, serta meningitis dan infeksi telinga.

 

Doireann Maddock, perawat jantung senior di British Heart Foundation, mengatakan bahwa efek kesehatan menjadi perokok pasif sudah dikenal, tapi baru kali ini ada penelitian mengaitkannya dengan anak-anak dan mengabarkan risiko masalah jantung pada anak di kemudian hari.***