Pengamat: Zero Deficit Solusi APBN Sempit

Pengamat: Zero Deficit Solusi APBN Sempit
sayangi.com

Istilah "Zero Deficit" kini tengah gencar diperdengungkan. Wacana ini muncul menyusul sempitnya ruang fiskal pada anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN) 2015. "Zero Defisit" adalah sistem penerimaan dan pengeluaran seimbang APBN untuk membuka ruang fiskal yang lebih luas.

 

Gagasan diketengahkan oleh Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Hendri Saparini di Jakarta pada Rabu (20/8/2014). Hendri menegaskan postur APBN dalam beberapa tahun terakhir selalu menyisakan ruang defisit tentu terus membebani keuangan negara.

 

"Pemerintah perlu menghindari penetapan anggaran belanja defisit, karena dampaknya terhadap pembiayaan, dari utang luar negeri dan obligasi," ujar Hendri.

 

Menurut pengamatan CORE, pemerintah saat ini telah membengkakkan jumlah utang negara menjadi dua kali lipat. Selama kurun waktu 10 tahun hutang Indonesia membengkak dari Rp 1.268 triliun menjadi Rp 2.508 triliun. Itu dimulai dari tahun 2005 hingga Juni 2014. Sedangkan kemampuan pemerintah untuk membayar utang yang diindikasikan dengan "debt to service ratio" (DSR) justru kian melemah.

 

Padahal, sambung Hendri, jika melihat tren penerbitan surat berharga obligasi, besaran yield terus meningkat, dan  menurutnya, hal ini dapat menyebabkan pemerintah semakin sulit membayar utang.

 

"Inilah yang mengakibatkan APBN selalu mengalami defisit primer selama dua tahun terakhir. Bunga obligasi yang mengambang jadinya sangat ditentukan oleh pasar yang fluktuatif," tandas Hendri. *** kinaya (sumber: antara, skalanews)