Penelitian Membuktikan Gemar Bersosial Media Buat Kita Malas Berfikir

Penelitian Membuktikan Gemar Bersosial Media Buat Kita Malas Berfikir

Fiskal.co.id – Menurut studi ilmiah, kebiasaan bersosial media (sosmed) untuk menyelesaikan masalah ternyata dapat menurunkan kemampuan berfikir kita secara mandiri.


Psikolog Azim Shariff dalam sebuah media cetak menulis, bahwa pembelajaran bersama memang hal yang positif, dengan media sosial misalnya. "Pembelajaran secara berkelompok adalah mekanisme budaya yang penting bisa meningkatkan kinerja individu dan kelompok," tulisnya.

 

Namun, jejaring sosial dan internet menawarkan jalan pintas bagi orang untuk mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan. Orang bisa dengan mudah menemukan pemecahan persoalan lewat sosial media, namun disisi lain hal tersebut memberikan efek kemunduran kemampuan berfikir analitis seseorang.


"Jaringan sosial memang sangat nyaman karena mereka dapat memberikan respon balik kepada kita. Ketika Anda memiliki masalah, Anda mengunjungi YouTube dan Anda melihat seseorang telah memecahkan masalah Anda dan Anda meniru solusinya.” tulis peneliti National Center for Scientific Research, Jean-Francois Bonnefon.


Ia telah melakukan sebuah penelitian terkait hal tersebut dengan melibatkan 100 orang di bawah usia 20 tahun. Semua subyek penelitian diberikan pertanyaan dan kesempatan untuk memberikan penyelesaian dari pertanyaan tersebut.


Semua subyek tersebut diambil secara acak dengan kriteria orang yang sering berfikir secara mandiri dan orang yang lebih mengandalkan kemudahan jejaring sosial untuk menyelesaikan permasalah atau pertanyaan yang mereka hadapi.


Pada akhir penelitian, menunjukkan kemampuan analitis pribadi dari kelompok yang terbiasa dengan jejaring sosial rata-rata yang lebih rendah.


Pada dasarnya mereka menyadari berfikir secara individu terkadang juga diperlukan. Agar tidak selalu bergantung dengan kemudahan yang ditawarkan dunia maya.


Informasi sosial memang berguna, hal itu membantu para peserta untuk mendapatkan jawaban yang tepat, namun tidak membantu mereka memahami proses berpikir yang mendasari jawaban itu. Jadi, ketika dihadapkan dengan pertanyaan serupa yang lain, mereka tidak akan dapat menjawabnya," ujar sang peneliti. [mjd]