Kata “Komunis” Masih Menjadi Momok Hebat bagi Masyarakat Indonesia

Kata “Komunis” Masih Menjadi Momok Hebat bagi Masyarakat Indonesia

Ada anakronisme tengah berjalan saat ini di negara kita. Di saat negara lain melupakan terma terma dalam perang dingin, yang menghantui secara global lebih dari 40 tahun lamanya, sejak Nikita Kruschev naik Tahta di Kremlin, lalu berakhir pada era 90 an dengan Perestoika dan Glasnost nya Michael Gorbachev di Russia.

 

Uni Sovyet bubar, komunisme dunia melemah, bahkan tidak lagi menarik sebagai ideologi, sebagaimana pelaku ideologi tersebut menjadi operator dari negara kapitalisme murni, seperti apa yang kita di lihat pada kiblat komunisme dunia, China dan Russia.

 

Di sebagian besar negara berkembang yang menjadi buffer state ideologi antara blok NATO dan blok Pakta Warsawa, komunisme pun di maafkan, lalu di sebut sebut sebagai pengalaman konyol yang mestinya mendewasakan demokrasi. Komunisme masih bisa hidup sebagai ide, tapi tidak akan lagi bisa diterapkan dominan.

 

Tapi di Indonesia efeknya jauh lebih dari sekedar ideologi. Di Indonesia kata “komunisme” menjadi suatu kultur instusif –hal yang sebagaimana bisa Anda dapati jika Anda menjadi tahanan di suatu penjara, wajib memakai seragam, wajib hidup dalam aturan sipir, dan mengalami institusionalisasi hidup, takut melanggar aturan, karena tidak ingin dihajar sipirnya.

 

Tanpa peduli latar belakang secara ontologis dan aksiologis, komunisme menjadi stigma paten dari “sesuatu yang sangat jahat”

 

Ketakutan pada komunisme dan sosialisme itu diketam dan dipelajari melalui buku sejarah yang tidak seimbang. Peranan orang orang kiri di hilangkan dari gerakan kemerdekaan Bangsa, sementara keburukan mereka diangkat angkat.

 

Tan Malaka ambil contohnya boleh jadi peletak dasar kebangsaan Indonesia jauh lebih akurat dari Soekarno, dengan peranan yang lebih menakutkan kaum kolonial, tapi namanya hilang dari buku sejarah sekolah.

 

Tidak heran, sudah 50 tahun lewat dari suatu peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI, ketakutan pada komunisme masih merelung di antara tulang tulang anak muda bangsa. Namun, lain di atas, lain di bawah (hal yang lumrah bahkan beberapa tahun sebelum G 30 S).

 

Secara ekonomi, saat ini Indonesia kini berjabat super erat pada negara komunis besar seperti Russia dan China. Hubungan dagang, dan alih teknologi, berjalan bagai kehidupan orang pacaran yang saling intip dompet satu sama lain, saling patungan dalam hajat bersama. Terlebih Indonesia mengurangi ketergantungan mereka pada blok yang lebih kapitalis selepas era reformasi, lantaran merasa dikerjai dan diperas.

 

Komunis dibenci, Produknya disayang

 

Barangkali mereka yang paling benci komunis di negeri ini, yang rela melakukan hal hal paling tidak manusiawi sekalipun pada orang komunis, tanpa sadar dirinya menikmati produk produk dari negara komunis seperti China, dan tidak rela untuk melepas ketergantungan itu lantaran terpikat harga produk murah. Berkesan hipokrit, tapi itulah yang terjadi.

 

Arah baru tengah bertiup, sebagaimana laporan dari VOA, Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak Kejaksaan Agung Indonesia yang akhirnya setuju untuk menyelidiki apa yang terjadi pada 1965. Dan yang akan bekerja melakukan penyelidikan adalah Komisi Nasional Indonesia pada Hak Asasi Manusia, yang melakukan sendiri investigasi dalam rentang tiga tahun, mencari tahu dalang dari pembantaian dan pelanggaran HAM berat yang terjadi. Di mana jutaan warga Indonesia yang tidak pernah sekolah dasar sekalpun dan awam pada mahluk bernama ideologi, ikut terbunuh lantaran mengangkat bendera palu arit.

 

"Itu bagus, itu kemajuan," kata Yosef Djakababa, direktur Center for Southeast Asian Studies-Indonesia.

 

Adapun bagi Michael Vann pakar sejarah Indonesia dari Universitas California di Sacramento, menilai rasa takut pada komunisme itu jargonis dan rekayasa militer yang didukung negara Barat.

 

Vann, mempelajari beberapa museum ini, khususnya Museum Pengkhianatan Komunis di pinggiran Jakarta, dan terkejut isi museum nya belum diganti dan diperbaiki arah sejarah, di mana para sejarawan lokal berani bicara jati diri PKI setelah pemerintahan Soeharto tumbang.

 

Alih alih meluruskan sejarah, mereka yang berkunjung ke museum itu akan memperoleh lubang memori Orwellian, alias dihinggapi rasa takut sosial lewat injeksi serta penularan.

 

"Pesannya adalah bahwa [partai komunis] PKI adalah sebuah organisasi jahat yang mampu melakukan kekerasan dan kejam, dan berkomitmen untuk menabur kekacauan sosial," katanya.

 

Benar benar suatu pembalikan yang hebat. Karena walau ide komunisme tidak dominan. Negara negara yang masih nyaman mengaku komunis, di mana warga nya malah menikmati kesejahteraan, dan hasil kesejahteraan itu ikut dibagi bagi pada warga Indonesia.

 

Kekejaman, kekerasan, kekacauan sosial harus ada buktinya toh? Apabila tidak ada buktinya. Maka sama saja masyarakat Indonesia dihantui rasa takut dan paranoid yang tidak berdasar, setidaknya di zaman ini. Mentalitas itu harus dirubah, karena paranoid itu bagian dari sakit kejiwaan.***Fey