Indonesia dan Malaysia Perang Pajak Ekspor Sawit

Indonesia dan Malaysia Perang Pajak Ekspor Sawit
image.suhck

Dua produsen minyak kelapa sawit (CPO) dunia, yaitu Indonesia dan Malaysia tengah perang pajak ekspor untuk meningkatkan penjualan sawit dari masing-masing negara.

Selama ini Indonesia dan Malaysia merupakan produsen utama minyak sawit dunia dengan menguasai 85 % pasar global. Ditengah turunnya harga sawit global memaksa mereka menelurkan kebijakan baru demi menjaga stabilitas harga didalam negeri.

Dikutip dari laman The Star Business, Senin (22/9/2014), Malaysia telah lebih dulu menetapakan kebijakan pemangkasan bea ekspor pada september 2014 lalu.

Malaysia menetapkan pemangkasan bea ekspor ini selama dua bulan guna mengurangai pasokan sawit yang melimpah. Tercatat sepanjang juli - agustus malaysia mencatat rekor persedian sawit sebesar 2,05 juta ton .

Tak selang beberapa lama, atau dua bulan kemudian Indonesia juga mulai menetapkan pemangkasan bea eskpor. Per 1 Oktober nanti pemangkasan bea ekspor sawit Indonesia mulai berlaku.

Hal ini tentunya akan mengurangi keuntungan ekspor sawit Malaysia, setelah sepanjang bulan ini, total pengiriman minyak sawit Malaysia terbilang cukup meningkat.

Perang pajak dua produsen minyak sawit ini dapat meningkatkan konsumsi minyak sawit global dalam beberapa bulan ke depan. Analis mengatakan, ada kenaikan hingga 41 persen selama 10 hari sejak aturan bebas bea ekspor tersebut diberlakukan.

Direktur Godrej International, Dorab Mistry mengatakan, harga CPO tidak mungkin jatuh lebih rendah di bawah biaya produksi 1.900 ringgit per ton.

Kedua negara masih bisa mengambil keuntungan, tercatat sawit lebih murah US$ 106,5 per ton dibandingkan minyak kedelai Argentina. *** kinaya (liputan6, starbussines).