Sastra Indonesia vs Denny J.A, Godzilla vs Godzilla

2016-01-28 19:30:50

Sastra Indonesia vs Denny J.A, Godzilla vs Godzilla | Fiskal.co.id

Sumber Foto: boemipoetra.wordpress.com

Dalam 4 tahun studi penulis di fakultas ilmu komunikasi, terlebih menjadi mahasiswa jurusan Jurnalistik, sastra hanya di sebut sekali. Dan itu hanya sisipan kecil dalam mata kuliah penulisan features, diperkenalkan istilah Jurnalistik Sastra. Sebagaimana yang dijelaskan, pembawa genre ini bernama Tom Wolfe, seorang jurnalis dan juga penulis entertainer utamanya pada genre noir (silahkan tonton Bonfire of The Vanities). 

Sepanjang sisipan tentang jurnalisme sastra, yang menjadikan karya jurnalistik bernilai sastra semata karena ada sekuensi watak di dalam penulisan. Fakta adalah sebagaimana yang direkam dalam sekuensi tersebut, bukan semata data mentah dari hasil rekaman, melainkan ikut mengungkap watak pelakunya. Dalam hal ini, sastra semata hanya alat penyajian. Tujuannya? Karena disisipkan dalam mata kuliah penulisan feature, maka tujuannya adalah memberi imbuhan pada penulisan human interest atau bagaimana narasi humaniora semakin menarik. 

Bagi kami di jurusan Jurnalistik, sastra tidak semenarik ilmu linguistik. Lebih mudah membaca suatu peristiwa kemanusiaan dengan menggunakan analisis semiotika, atau framing, dan atau teori dekontruksi, dibandingkan mengikuti tafsiran melalui karya sastra yang penuh simbologi dan situasi dikromatis. Meskipun ada pameo "Bila Jurnalisme Dibungkam Sastra Bicara", namun itu lebih tepatnya medianya yang dibungkam jurnalisme tidak, selain karena proses "press printing" bisa dialihkan ke proses "press mouse pointing" atau melalui jalan diskusi, pembacaan orasi. Jurnalisme atau proses pengumpulan kabar serta penulisannya tidak bisa dibungkam.

Walau demikian, ada daya tarik dalam sastra yang tidak bisa diabaikan para jurnalis, misalkan bagi para jurnalis yang hendak memberi nilai tambah pada penulisannya, sudut pandang lama pada situasi mimetis di masyarakat, atau kutipan-kutipan tokoh fiksi terkenal yang ada koherensi dengan penulisan artikelnya.

Tentu saja paparan di atas bisa tidak berlaku sama sekali, apabila kualitas karya sastra "setara" dengan karya jurnalistik, minimal dengan tidak menjadikannya lelucon.

Di negara ini sejatinya kualitas sastra terbilang lebih baik dari kualitas penulisan jurnalistik, bila peer to peer didasarkan dari kemungkinan memperoleh penghargaan prestisius. Penghargaan untuk karya jurnalistik di Indonesia lebih minim, dibandingkan dengan penghargaan pada karya sastra. Belum pernah ada penghargaan untuk kategori penulisan terbaik, jurnalis terbaik, dalam dunia jurnalistik di Indonesia yang diselenggarakan oleh para kredibel di Dewan Pers, sebagai pantheon nya jurnalisme di Indonesia. Tugas Dewan Pers hanya mengawasi dan memberikan punishment, minim reward. Pada akhirnya standar karya jurnalistik, sebatas apa yang lolos sensor dari Dewan Pers, dengan kualitas serba bebas.

Berbeda dengan sastra di mana tradisi sayembara, atau program penulisan sastra tingkat internasional telah berjalan sejak lama. Kualitasnya selalu dijaga, bahkan memiliki "Paus Sastra", ada hegemoni kualitas melalui sensorship ketat di media cetak nasional yang sanggup membayar suatu karya lebih mahal. Rubrik sastra di media cetak nasional menjadi penentu lahirnya sastrawan baru yang berprospek tinggi, karena kualitas seni yang dihasilkannya, memperoleh pengakuan dari penjaga rubrik yang ikut dijaga lewat kritik sesama kolega sastrawan.

Kritik sastra di sisi lain telah establish. Kritik jurnalistik? Tidak seramai dan seberkualitas kritik sastra, lantaran karya jurnalis yang buruk jika bukan dipandang sebagai karya sampah fakta yang penuh typo, atau karya sampah tidak netral dari pemodal, namun kritik ini minim publikasi yang menarik minat banyak khalayak, karena terkadang dalam kritik jurnalistik terdapat bias yang menyudutkan media massa pemuatnya.

Tidak ada gairah para kritikus menyerang sisi personal penulis karya jurnalistik.  Lagipula untuk apa menjatuhkan penulis karya jurnalistik yang setengah anonim? Para jurnalis hanya memberikan kode penulis seperti nw, pn, aw dst. Terlebih karya jurnalistik sering merupakan karya kolektif, maka yang patut diserang adalah media nya, dan yang maju ke depan selalu pemimpin redaksi.

Lalu bagaimana bisa karya jurnalistik disebut lebih berkualitas dengan karya sastra? Karena para jurnalis tidak pernah menyebut karya kolega jurnalis lain sebagai lelucon.

Jurnalisme di Indonesia memang punya situasi. Ada degradasi kualitas penulisan, ada semangat membela dan ikut pandangan politik para pemodal media, ada ketidakberimbangan. Namun, hal semacam itu tidak menjadikan para jurnalis menjadi teroris stigma bagi jurnalis lain. Tidak ada ungkapan goblok, bodoh, tolol, bajingan, brengsek pada sesama jurnalis lain, karena saling mengerti tidak ada artinya memerangi sudut kepercayaan masing-masing  ideologi jurnalis. "Menyerang karya jurnalistik dari jurnalis lain, tidak menjadikan karya jurnalistikmu menjadi yang terbaik." Itu kiranya yang ditandaskan oleh para jurnalis.

Lagipula yang menilai adalah pasar. Dan pasar lebih peduli pada apa yang mereka mau dengar, dibandingkan tertarik dengan cara penyampaian kabar.

Misalkan, adakah para jurnalis yang dibekali buku wartawan dari Dewan Pers menyerang genre Jonru yang mengaku penulis cum jurnalis? Tidak ada! Tidak ada yang repot-repot melakukan kritik framing, semiotika, dekontruksi pada karya-karya Jonru! Bukan karena tidak peduli, tapi itu bukan berita sama sekali, tidak ada nilai beritanya, tidak ada nilai human interest di dalamnya. Media tidak tertarik pada karya-karya Jonru, tapi lebih tertarik tentang nasib Jonru. Apakah seseorang dengan jumlah like besar di Facebook bisa jatuh? Apakah Jonru bisa dipenjarakan? Apakah dirinya bisa jatuh miskin? dst.

Artinya, jika seseorang mengaku jurnalis dengan tujuan narsistik pribadi pada karya-karyanya. Maka dirinya salah alamat. Ingin terkenal karena karya penulisannya, jadilah sastrawan. Namanya akan disebut sebagai pencipta puisi anu, pencipta novel anu, menjadi selebritis, medapatkan kunci istana pengakuan. Dan oleh karena itulah menjadi sastrawan paling bergengsi secara politik sangat menarik.

Karena ada daya tarik, maka tahta sastra bisa dijadikan target politik siapapun yang mengaku sastrawan di negeri ini.  Tidak heran terdapat intrik, untuk mengukuhkan suatu kekuasaan sastra dan genre oleh mereka yang tertarik melakukan kapitulasi keterkenalannya. Hal inilah yang menjadikan sastra Indonesia seberkualitas apapun, bisa dipandang sebagai lelucon.

Jika sebelumnya ada perang ideologis antara kubu sastrawan Goenawan Muhamad dengan kubu sastrawan Boemi Poetra berkaitan dengan hegemoni sastra koran. Maka yang paling gres adalah perang tahta antara kubu sastrawan Denny J.A dengan kubu sastrawan Boemi Poetera, berkaitan dengan kekuasaan sastra di Indonesia.

Kubu Boemi Poetra yang dimotori kritikus Saut Situmorang menyerang penobatan Denny Januar Ali sebagai salah satu di antara 33 sastrawan paling berpengaruh di Indonesia, dalam buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh."  Dunia jurnalistik mulai memperhatikan kontroversi ini, pada saat sastrawan Saut Situmorang serta Iwan Soekri Munaf sebagai pihak yang kontra mesti berurusan dengan polisi.

Kisah ditangkapnya Saut dan Iwan penting bagi para jurnalis, untuk melihat seberapa tajam UU ITE mensensor penulis di media online. Namun, tentu saja bukan UU ITE yang menjadi wacana besar di kalangan para sastrawan, karena mereka lebih memilih masuk penjara dibandingkan melihat Denny J.A melenggang menyebut diri salah satu sastrawan berpengaruh.

Dari rangkuman alasan yang diberikan pihak yang kontra, penulis mendapati bahwa Denny bisa melakukan kejahatan kebudayaan. Melakukan narsisme yang kelewatan tebal, terlalu vulgar memposisikan dirinya dengan para maestro sastra, tidak tahu diri! Pendeknya 33 nama dalam buku tersebut tidak mencerminkan kondisi atau fakta yang sebenarnya.

Benarkah?
Dengan bekal pernah membaca beberapa karya sastra, penulis lalu membaca puisi karya Denny, lantas membandingkannya dengan puisi karya Saut Situmorang. Namun karena keterbatasan analisa estetika penulis tidak bisa memutuskan mana yang terbaik, akan halnya dalam hal daya tarik pribadi, misalkan wacana, penulis menggolongkan keduanya tidak menarik. Kritik pribadi semata, Saut terlalu pribadi, Denny sangat tidak ringkas. Bukan daftar bacaan saya. 

Dan itulah intinya. Orang menyebut "Burung Burung Manyar", novel dari Romo Mangun sebagai karya berpengaruh tapi Romo Mangun tidak ada dalam daftar tersebut. Tidak ada Iwan Simatupang yang pernah menulis karya "Merahnya Merah" Atau siapa yang tidak kenal dengan Danarto yang begitu unik dan jenial, dan itulah inti semua ini, siapa Danarto? Siapa Iwan Simatupang? Lalu Mangunwijaya? Ada masalah dalam sintesa budaya pop dunia -termasuk Indonesia. Keterpengaruhan adalah sejauh mana Anda benar benar terkenal, bukan seberapa kualitas karya Anda.

Ada tragedi Denis Ritchie vs Steve Jobs vs Alan Turring menimpa dunia sastra -entah untuk kali keberapa? Karya Turring membuka jalan, karya Denis lebih berkualitas, tapi Steve yang lebih dikenal mempengaruhi orang banyak.

Begitulah dunia apa adanya. Ksatria di dunia persilatan ada yang saling hebat menghebati satu dengan lainnya, tapi yang lebih hebat belum tentu jadi raja. Menjadi raja jelas berpengaruh, bisa membeli spot terdepan, bisa membeli banyak hal termasuk dimasukan ke dalam sejarah. Jika kelak 100 tahun kemudian Denny J.A disebut berpengaruh dalam sastra Indonesia, ya begitulah yang terjadi. Saking sangat berpengaruhnya, dia menjadi satu dari sedikit sastrawan yang kontroversi karyanya bisa bawa orang ke penjara, tanpa yang bersangkutan terlibat dan berkeringat pada kasus tersebut. 

Saat ini informasi begitu berjejalan, sudah tiba saatnya para penulis merelakan nama besar demi terlibat kerjasama penukangan sejarah anonimitas yang dinamakan open source. Apa yang terjadi di dunia sastra Indonesia sangat tidak inspiratif, berkelahi hanya untuk memperebutkan spot nama siapa yang paling besar dan berdiri paling tangguh. Bagai dua Godzilla yang berperang di tengah kota, memperebutkan siapa yang paling hebat, tapi dengan korban mereka yang kecil ukurannya dari ukuran Godzilla. 

Kalian sastrawan besar besar dan hebat, lalu apa arti perang besar tersebut pada pembangunan indeks kebahagiaan masyarakat di Indonesia? Saat ini, kita mengalami masalah terorisme, transnasionalisme, fiskal, moneter, dan pembangunan SDM yang megap-megap, dalam alur konsumerisme terlihat yang salah jalan, masa depan seolah cerah sekaligus suram.

Dunia sastra bisa berperan lebih besar memberikan sedatif/pain killer/hiburan pada mereka yang lurus berjuang demi orang banyak, minimal demi keluarga masing-masing.  Berikan dorongan untuk tetap bisa berkepala tegak walau menghadapi satu kekacauan demi kekacauan lain. Dalam pikiran jernih, masyarakat bisa melakukan banyak hal benar dalam hidup mereka. Di sana tugas sastra mengawal akal sehat masyarakat dengan kemampuan magis kalimat dan kata-kata.

Sehingga bila pameo di atas sedikit berubah, "Jika Jurnalisme Gagal Medorong Keberanian Masyarakat, Sastra Bicara", kami para Jurnalis jauh lebih dari sekedar rela jadi pesakitannya.***Red