Astrologi Keuangan 2016:Bursa Melemah, Ekonomi Lesu Darah

2016-01-11 09:56:51

Astrologi Keuangan 2016:Bursa Melemah, Ekonomi Lesu Darah | Fiskal.co.id

Sumber Foto: Potensi Bursa Indonesia 2016

Memasuki tahun baru 2016 tentu membawa banyak harapan bagi rakyat Indonesia.Mulai dari kestabilan politik, investasi hingga pertumbuhan ekonomi diharapkan meningkat.

 

 

Berbagai asumsi dan prediksi mulai dari pengaruh shio Monyet Api hinggaasumsi-asumsi dari The International Monetary Fund (IMF)sampai dampak strategi pembangunan infrastruktur pun digunakan untuk menerka arah perekonomian nasional di tahun 2016.

 

 

Belum lama “IMF” juga memberikan sinyal yang cukup positif dengan proyeksi pertumbuhan untuk Indonesia sebesar 5% di tahun 2016 (http://finance.detik.com/read/2015/12/22/115749/3102108/4/ramalan-imf-ekonomi-ri-tumbuh-5-di-2016).

 

 

Kemudian proyeksi yang cukup baik ini disambangi juga dengan tanggapan dari beberapa analis dan rekan-rekan perencana keuangan yang juga memberikan view kenaikan sebesar 20% untuk bursa efek sepanjang 2016 (http://finance.detik.com/read/2015/12/23/192016/3103599/4/ini-investasi-yang-layak-dilirik-di-tahun-monyet-api).

 

 

Refleksi 2015

 

Masih segar tentunya dalam ingatan kita beberapa waktu silam di awal tahun 2015, bahwa banyak yang memprediksikan target Index bursa 6,200 untuk tahun 2015 – atau bertumbuh sekitar 16% dari level 5,300an di akhir tahun 2014dan 5.2% untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2015.Akan tetapi jauh panggang dari api. Tahun 2015 yang baru saja kita lewati, ternyata bursa Indonesia hanya bertengger di level 4,600an (atau turun sebesar 12%pada akhir 2015).Pun demikian dengan laju perekonomian dengan “hanya” pertumbuhan 4.67%.

 

 

Demikianlah realitas yang terjadi, tanpa tedeng aling-aling kita harus mengakui bahwa baik bursa maupun keadaan ekonomi nasional yang diantisipasi “menguat” berakhir “menguat-irkan” pada tahun 2015. Yang harus dipertanyakan adalah mengapa terjadi perbedaan yang signifikan antara proyeksi para “pakar” dan kenyataan?

 

 

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar kerugian (baik yang realized maupun unrealized) dari para Investor dan asset manager yang menanamkan capital sesuai dengan rekomendasi para expert tersebut?

 

 

Siklus Komoditas

 

Tentunya akan sangat sulit bagi siapapun untuk dapat memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut tanpa menyadari  pada posisi mana “business cycle” (siklus bisnis) Indonesia, dan kemudian kemana arah perekonomian secara umum akan melaju sesuai dengan “road map” atau “grand design” dari siklus bisnis tersebut.

 

 

Salah satu Presiden Amerika, Theodore Roosevelt, pernah mengatakan:

 

 

“The more you know about the past, the better prepared you are about the future”

 

 

Sebagai negara berbasiskan komoditas, posisi perekonomian Indonesia rentan terhadap harga komoditas Internasional.Yang kami maksud dengan komoditas disini termasuk minyak bumi, emas, perak, dan sumber daya alam lainnya. Khususnya harga minyak bumi memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian nasional. Sebagai contoh adalah devaluasi Rupiah sebesar 45% pada tahun 1986.

 

 

Pada saat posisi Indonesia masih sebagai “net exporter” minyak bumi.Harga minyak yang rata-rata berkisaran antara $28 per barrel di tahun 1985 turun di bawah $15 per barrel pada Maret 1986.Menghadapi kondisi itu pada 30 Maret 1983 pemerintah mendevaluasi Rupiah dari Rp 702.5 per US$ menjadi Rp 970 per US$. Tujuan daripada devaluasi tersebut adalah dalam rangka meningkatkan nilai ekspor serta cadangan devisa nasional.

 

 

Dampak turunnya harga minyak bumipada saat itu cukup signifikan yaitu berupa turunnya penerimaan migas dari hasil ekspor yang menurun sebesar 44,0% (1986/1987), defisit transaksi berjalan meningkat hampir100% dari US$2.888 juta menjadi US$4.151 juta (1983/1984)

 

 

Cukup menarik memang karena bahkan beberapa Ekonom sering menggunakan harga minyak internasional sebagai barometer terhadap harga komoditas lainnya, dan juga sebagai indikator muka (leading indicator)  dari perekonomian yang berbasiskan pada sumber daya alam.

 

 

Siklus Sinodis

 

Pada ZodiakKeuangan.com kami menggunakan pendekatan siklus sinodis (“synodic cycle”) dalam melakukan proyeksi pada harga komoditas.Khususnya mengenai Minyak Bumi siklus sinodis yang digunakan adalah aspek yang terjadi antara Jupiter (), Saturnus () dan Neptunus ().Jupiter adalah symbol dari ekspansi, Saturnus symbol dari keterbatasan (“restriction”), sementara Neptunus adalah symbol dari Industri Perminyakan itu sendiri.

 

 

Harga minyak mencapai titik tertinggi bila ada aspek yang harmonis antara Jupiter dan Neptunus, sebaliknya aspek yang tidak harmonis (hard aspect) antara Saturnus dan Neptunus menunjukkan titik terendah harga komoditas minyak tersebut.

 

 

Sebagai contoh krisis ekonomi asia yang terjadi pada kurun waktu 1998-2000 bertepatan dengan Saturnus dan Jupiter yang melakukan aspek 900, atau dikenal dengan “square” dengan Neptunus, harga minyak dunia pun jatuh ke level U$20/barrel. Sementara invasi Amerika ke Irak, recovery perekonomian Asia dan demonstrasi di Venezuela pada periode 2000- 2005 berujung kepada naiknya harga minyak ke U$110/barrel. Pada masa ini Aspek yang terjadi adalah Trine atau 1200, dan Sextile 600antara Saturnus, Neptune, dan Jupiter. Pada tahun 2007-2009 krisis keuangan global bertepatan dengan aspek Square pada ketiga planet tersebut. Hal ini ditunjukkan pada chart 2 dibawah.

 

 

Sebagai informasi tambahan bahwa pemboran sumur minyak  secara komersial dilakukan di Titusville, Pennsylvania, Amerika oleh seorang pelopor inovatif bernama Kolonel Edwin Drake pada tahun 1859. Pada waktuyang sama Neptunus berada tepat pada zodiac Pisces (Pisces adalah Zodiak yang di simbolkan dengan Neptunus!!) .

 

 

Pada waktu itu beberapa petualang sedang bereksperimen untuk menggunakan minyak bumi sebagai pengganti minyak nabati yang berasal dari ikan paus, yang sangat mahal dan sulit untuk didapatkan.Banyak petani dari Pennsylvania melihat bahwa minyak bumi merembes melalui bebatuan di beberapa tempat, dan ini dapat dikumpulkan dan disempurnakan untuk digunakan dalam lampu.Setelah mempelajari geologi daerah Pennsylvania, Kolonel Drake mulai mencari cadangan tersembunyi dari minyak bumi di daerah tersebut.

 

 

Kolonel Edwin Drake menemukan teknologi pemipaanyang perlahan dapat dibor ke bumi. Pada pagi hari 28 Agustus 1859 pada kedalaman 69 kaki dia akhirnya menemukan minyak menggelegak melalui pipa tersebut. Dia mengumpulkan minyak di barel wiski lokal di tingkat sekitar 10 barel per hari.Inilah kali pertama Industri minyak dilahirkan!!. Chart pada waktu minyak pertama kali ditemukan diperlihatkan di bawah.

 

Chart 1 - Industri Minyak Dilahirkan

Chart 1 - Industri Minyak Dilahirkan

 

Chart 2–Dinamika Harga Minyak Dunia Vs Aspek Antara Jupiter-Saturnus-Neptunus

Chart 2–Dinamika Harga Minyak Dunia Vs Aspek Antara Jupiter-Saturnus-Neptunus

 

Prospek danTarget Harga Minyak Bumi

 

Tentunya sekarang cukup jelas bahwa Neptunus, Jupiter dan Saturnus dapat menjadi indikator yang cukup baik untuk meprediksi harga minyak dunia yang secara langsung dapat mempengaruhi perekonomian Nasional.

 

 

Seperti ditunjukkan pada point A dibawah, “hard aspect” yang berupa opposition dan square antara Jupiter, Saturnus danNeptunus pada pertengahan dan akhir 2015 telah berhasil merontokkan harga minyak dunia yang turun dari level $60/brl ke $34/brl.

 

 

Pada tahun 2016, Saturnus akan kembali membuat aspect square, dan bergerak retrograde dibulan Juni 2016 dan bergerak direct kembali ke lintasannya pada bulan September 2016 (Point B).  Secara umum dengan posisi planet Saturnus yang ber retrogradasi (retrograde) akan memicu harga komoditas untuk naik sementara di bulan Juni sampai dengan bulan September 2016, kami prediksikan akan mendorong harga minyak bumi dunia naik sedikit ke level US$40-US$45 per barrel antara Juni dan September 2016. Akan tetapi setelah bulan September 2016, kami proyeksikan harga minyak bumi akan turun ke level yang lebih rendah lagi setelah September 2016, dengan target harga untuk minyak bumi di akhir 2016 sebesar $20/brl.

 

Chart 3–Dinamika Harga Minyak Dunia di 2015 Vs Aspek Antara Jupiter-Saturnus-Neptunus

Chart 3–Dinamika Harga Minyak Dunia di 2015 Vs Aspek Antara Jupiter-Saturnus-Neptunus

 

Secara umum harga minyak bumi dan komoditas pengiring lainnya (emas, nickel, batubara, dsb) akan mengalami final rebound pada akhir tahun (bulan November) 2017, yaitu pada saat Jupiter kembali membuat aspek harmonis (trine) dengan Neptunus. Hal ini ditunjukkan pada point C pada chart 4 dibawah.

 

Chart 4–Perjalanan Jupiter-Saturnus-Neptunus 2015-2017

Chart 4–Perjalanan Jupiter-Saturnus-Neptunus 2015-2017

 

Ekonomi Lesu Darah, Penerimaan Pajak Kurang Bergairah

 

Seiring dengan pelemahan siklus komoditas global yang dipimpin oleh Minyak Bumi diatas, juga tercermin pada “transiting chart” Bangsa Indonesia.Seperti ditunjukkan pada chart 5 dibawah, posisi Saturnus berada pada sektor ke dua chart kemerdekaan Bangsa Indonesia (17 Agustus 1945 10:00AM).

 

 

Dalam Astrologi kenegaraan sektor ke dua merupakan sektor yang mencerminkan Earnings (surplus/ deficit) dan penerimaan negara secara umum. Dengan hadirnya Saturnus pada sektor ke dua tentunya akan memberikan tekanan kepada penerimaan negara yaitu berupa pajak secara umum.

 

 

Selain hadir di sektor ke dua, natal Saturnus juga membuat aspect T-Square dengan Pluto, dan Uranus pada sektor ke enam dan sepuluh Bangsa Indonesia.Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa sektor ke enam adalah sektor nya para buruh, sedangkan sektor ke sepuluh mewakili pimpinan Negara (atau para birokrat).Aspect T-Square adalah salah satu aspek dengan tingkat stress tinggi. Dengan terbentuknya aspek tersebut, menggambarkan kondisi tingkat pengangguran Bangsa Indonesia yangakan semakin “meroket” seiring dengan tekanan perekonomian. Hal ini juga tentunya membuat para pemimpin Negara pusing tujuh keliling.Hal ini ditunjukkan pada gambar 6 dibawah.

 

Chart 5–Posisi Bangsa Indonesia

Chart 5–Posisi Bangsa Indonesia

 

Kondisi Bursa Saham 2016

 

Sejalan dengan meningkatnya tekanan perekonomian Nasional, yang diiringi dengan pelemahan harga komoditas, Bursa Saham juga akan terkena imbasnya. Indikator Bursa yang kami develop di ZodiakKeuangan.com juga menunjukkan energy negative yang akan mendominasi di Bursa Saham pada tahun 2016. Bursa akan melemah, terutama pada quarter pertama dan kedua, dengan kemungkinan rebound sementara pada bulan Juli 2016. Hal ini ditunjukkan pada chart 6 dibawah.

 

Chart 6–Indikator Bursa 2016

Chart 6–Indikator Bursa 2016

 

Titik Terang Perekonomian Nasional

 

Saturnus memasuki sektor ke dua bangsa Indonesia pada bulan Oktober 2014, bertepatan dengan tanggal dilantiknya Presiden baru Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo.Pada saat yang sama, kurs Rupiah terhadap US$ juga berhasil menembus rentang perdagangan baru. Rupiah yang sebelumnya diperdagangkan di rentang 11,250-12,250 berhasil menembus keseimbangan baru menyentuh level 14,800 pada kisaran bulan Agustus- September 2015.

 

 

Saturnus memiliki orbit 30 tahun untuk mengitari matahari, atau tinggal selama 2.5 tahun pada satu zodiac/ sektor dan akan keluar dari sektor ke 2 (perekonomian nasional) pada bulan November 2017, yang juga bertepatan dengan titik-balik harga komoditas dunia.Inilah titik terang “full-rebound” perekonomian nasional.

 

 

Demikianlah projeksi kami pada keuangan Indonesia di 2016, mengingat tingginya volatilitas pada bursa dan perekonomian di 2016, maka kami sarankan agar pembaca dapat secara bijaksana dapat memilih perencana keuangan yang dengan senantiasa dapat memberikan arah yang benar dalam berinvestasi sehingga tujuan keuangan dapat tercapai. Tahun 2016 akan menjadi tahun yang menarik untuk “tactical asset allocation” dan “market timing” dan hanya para professional yang dapat bertahan.

 

  

Marilah kita sama-sama berdoa agar Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan bagi Presiden Baru kita agar senantiasa dapat memitigasi segala tekanan yang akan dihadapi Bangsa Indonesia selama dua tahun kedepan pada 2016-2017. Amin YRA.

 

 

Bagus Panuntun MBA, CFP, CPEP

Financial & Wealth Planner

Zodiak Keuangan.com

masbagusp@gmail.com